Sabtu, 28 Oktober 2017

APRESIASI PUISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Fiksi  berasal dari kata fictio yang berarti pembentukan, angan – angan, khayalan. Menurut Moeliono dkk, berarti : cerita rekaan (cerpen, roman, novel). Menurut Eddy (1991:49) mendefinisikan sebagai cerita yang direka (dikarang berdasar fantasia tau imajinasi). Menurut Chamidah dkk (1986), prosa fiksi merupakan cerita hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, serta penilaiyan tentang peristiwa yang berlangsung dalam hayal pengarang saja. Menurut M Saleh dan anton  “dalam soedjijono, 1984:64), yang dimkasud dengan prosa fiksi ialah (bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, kelakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan  oleh daya khayal atau imajinasi”
Berdasarkan  penjelasan – penjelasan diatas, tidaklah jauh berhubungan dengan cerita pendek. Bahkan juga cerita pendek telah berada dalam bentuk prosa fiksi. Oleh karena itu, Prosa Fiksi menjadi salah satu hal yang kami anggap perlu di kaji. Dengan harapan dapat memotifasi serta menambah pengetahuan kita secara aplikatif dari materi Prosa Fiksi ini.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari fiksi ?
2.      Apa saja jenis-jenis fiksi ?
3.      Apa saja ciri-ciri dari fiksi?
1.3 Tujuan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini seperti halnya dalam rumusan masalah di atas yaitu :
1.      Untuk mengetahui pengertian dari fiksi.
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis fiksi.
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri dari fiksi.
4.      Untuk mengetahui pendekatan dalam apresiasi fiksi.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Fiksi
Pengkajian terhadap karya fiksi berarti penelaah, penyelidikan, atau mengkaji karya fiksi. Novel merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks, unik, dan mengungkapkan segala sesuatu secara tidak langsung. Tujuan utama analisis kesastraan, fiksi, puisi, ataupun yang lain adalah untuk memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, di samping untuk membantu menjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu.
       Manfaat yang akan terasa dari kerja analisis itu adalah jika kita  membaca ulang karya-karya kesastraan yang dianalisis itu, baik karya-karya itu dianalisis sendiri maupun orang lain. Namun demikian adanya perbedaan penafsiran dan atau pendapat adalah sesuatu hal yang wajar dan biasa terjadi, dan itu tidak perlu dipersoalkan. Tentu saja masing-masing pendapat itu tak perlu memiliki latar belakang argumentasi yang dapat diterima.

2.1.1 Heuristik dan Hermeneutik
Heuristik merupakan pembacaan karya sastra pada system semiotik tingkat pertama, berupa pemahaman makna sebagaimana yang dikonvensikan oleh bahasa (yang bersangkutan) yaitu pengetahuan tentang bahasa itu, kompetensi terhadap kode bahasa.
Hermeneutik merupakan pemahaman keseluruhan berdasarkan unsur-unsurnya dan sebaliknya, pemahaman unsur-unsur berdasarkan keseluruhannya.
Dalam kajian kesastraan peda umumnya dikenal analisis struktural dan semiotik. Kajian analisis struktural menekankan pada adanya fungsi dan hubungan antarunsur dalam sebuah karya sastra. Kajian semiotik merupakan usaha pendekatan yang muncul lebih kemudian, yang antara lain sebagai reaksi atas pendekatan struktural yang dianggap mempunyai kelemahan-kelemahan. Namun dalam praktik kedua pendekatan ini sulit dibedakan karena saling melengkapi.

2.2 Unsur-Unsur Fiksi
2.2.1 Intrinsik dan Ekstrinsik
Unsur intrinsik  adalah unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur-unsur ini yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Pembagian unsur intrinsik struktur karya sastra yang terolong tradisional adalah pembagian berdasarkan unsur bentuk dan isi, sebuah pembagian dikhotomis yang sebanarnya diterima orang agak keberatan. Oleh karena itu, pembedaan unsur tertentu ke dalam unsur bentuk atau isi sebenarnya lebih bersifat teoretis di samping terlihat untuk menyederhanakan masalah.
Unsur ekstrinsik adalah unsure-unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Menurut Wallek & Warren (1956), walaupun membicarakan unsur ekstrinsik cukup panjang, tampaknya memandang unsur itu sebagai sesuatu yang agak negatif, kurang penting. Tetapi pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya sastra bagaimanapun akan membantu dalam pemahaman makna.
Unsur ekstrinsik terdiri dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud (Wellek & Warren, 1956:75-135) antara lain:
a.       Keadaan subjaktivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya.
b.      Psikologi, baik yang berupa psikologi penagarang, psikologi pembaca, dan dalam karya sastra.
c.       Keadaan lingkungan pengarang.
d.      Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni.

2.2.2 Fakta, Tema, Sarana Cerita
Stanton (1965:11-36) membedakan unsure pembangun sebuah novel ke dalam tiga bagian; fakta, tema, dan sarana pengucapan (sastra).
1.      Fakta (facts) dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), plot, dan setting merupakan unsur faktual yang dapat dibayangkan peristiwanya, eksistensinya, dalam sebuah novel.
2.      Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, yang berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan seperti masalah cinta, kasih, rindu, takut, maut, religius dll.
3.      Sarana pengucapan sastra, adalah teknik yang digunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna.
Setiap novel memiliki tiga unsur pokok, sekaligus menjadi unsur penting yaitu tokoh utama, konflik utama, dan tema utama yang saling berkaitan erat dan membentuk satu kesatuan cerita secara padu.


2.2.3  Cerita dan Wacana
Menurut pandangan strukturalisme unsur fiksi dibagi dua yaitu cerita dan wacana. Cerita merupakan isi dari ekspresi naratif, sedangkan wacana merupakan bentuk dari sesuatu cerita yang merupakan isi dari ekspresif naratif sedang wacana merupakan bentuk dari sesuatu yang diekspresikan (Chatman, 1980:23). Cerita terdiri dari peristiwa dan wujud keberadaan, eksistensi. Peristiwa itu dapat berupa tindakan, aksi, dan kejadian.
Aspek cerita yang terdiri dari peristiwa dan wujud keberadaanya, dan eksisitensinya merupakan aspek bentuk isi. Unsur yang merupakan subtansi isi, di lain pihak adalah keseluruhan sebagai bentuk kemungkinan objek dan peristiwa.

2.3 Klasifikasi Fiksi
Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan atau melakukan pembagian terhadap fiksi, bergantung dari sudut pandang kita. Kita dapat mengadakan klasifikasi berdasarkan panjang-pendeknya fiksi, berdasarkan jumlah kata yang dikandungnya. Kitapun dapat pula mengadakan klasifikasi dari segi maksud dan tujuan sang pengarang menulis fakta itu. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa klasifikasi itu dapat dibuat:
1.      berdasarkan bentuk
2.      berdasarkan isi
3.      berdasarkan kritik sastra.
Dibawah ini akan diuraikan satu persatu.



2.3.1 Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuknya fiShort short storyksi dapat kita bedakan dalam lima golongan, yaitu:
·         Novel (istilah yang biasa kita kenal yakni roman, dari bahasa Belanda)
·         Novelette (istilah yang biasa kita gunakan novel, dari bahasa Belanda"novelle" yang pada gilirannya berasal dari bahasa Perancis "nouvelle" yang berarti hal yang baru).
·         Short story (cerita pendek) (cerita singkat)
·         Vignette (sangat singkat dan hanya menghabiskan tempat sangat sedikit; vignette dari bahasa Perancis berarti dalam gambar kecil untuk hiasan dalam bentuk mula-mula berupa cabang anggur), (Notosusanto: 1957:29)
Adapula yang membuat klasifikasi yang lebih sederhana lagi yang membaginya dalam tiga jenis, yaitu:
·                     Novel
·                     Novelette
·                     Short story

2.3.2 Berdasarkan Isi
Dalam sebuah fiksi sangatlah menentukan  sebuah identitas cerita, berdasarkan isi kemungkinan dilakukan apabila kita membaca sebuah fiksi, sehingga pembaca dapat memahaminya. Berdasarkan isinya maka fiksi dapat diklasifikasikan atas:
a. Impresionisme
Secara garis besarnya dalam kesenian istilah Impresionisme ini berarti pemberian kesan-kesan panca indera dengan tidak merupakan sesuatu bentuk tertentu. Untuk sastra dapatlah dikatakan bahwa impresionisme adalah penjelmaan pikiran, perasaan dan bentuk-bentuk dengan cara sindiran (sugesti), dan bukan dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya.
Cerita pendek yang ditulis secara Impresionistis tidak secara langsung menerangkan sejelas-jelasnya isi dan maksud cerita itu, tetapi dari totalitas atau keseluruhan cerita itu, kita dapat mengambil kesimpulan yang dimaksud oleh pengarang. Karangan itu seakan-akan tidak selesai, kalimat-kalimatnya tidak selesai dialognya putus-putus, tetapi totalitas karangan itu hanya menyajikan suatu gambaran yang bulat dan penuh.
b.Romantik
Banyak pengarang tidak suka disebut-sebut pengarang romantik, karena dalam pengertian sementara, romantik itu diluar dari kenyataan hidup atau kasarnya lari dari kenyataan yang dialami, yang baik-baik saja dan enak-enak saja yang diceritakan, romantik cenderung bercerita pada kehidupan yang sedang jatuh cinta, bertunangan, kawin, hidup bahagia, dan lain-lain yang muluk-muluk.
Perlu dipahami bahwa romantik adalah cara pengarang mengidealisasikan penghidupan dan pengalaman manusia yang meletakkan tekanan yang lebih berat pada yang lebih baik, lebih enak, lebih enak dalam penghidupan dan pengalaman manusia.
c. Realisme 
Realisme secara umum adalah cara menulis yang hanya memperhatikan manifestasi janmani (materi) dan yang kelihatan dari luar, dari penghidupan, hanya memperhatikan simpton dan bukan sebab-musabab penghidupan. Realisme menulis apa yang dilihat, menuliskan kenyataan-kenyataan yang kelihatan. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Dalam realisme ini manusia dilukiskan sebagai makhluk yang dikuasai oleh alam kebendaan, seolah-olah tidak punya hubungan apapun dengan kenyataan abadi ataupun realitas universal yang menjadi dasar alam sekitar manusia dan reaksi manusia terhadap alam.
d. Sosialist-Realisme
Istilah ini berasal dari ajaran Karl Marx, dengan maksud melukiskan penghidupan yang materialistis dan dangkal berdasar pada dogma Marxisme tentang sejarah dan masyarakat, manusia adalah satu kesatuan ekonomis yang dikuasai oleh alam sekitar. Manusia terikat pada alam jasmani dan benda materialistis dan tujuan kehidupan yang tertinggi adalah mencapai perubahan-perubahan kebendaan di atas dasar kepunyaan dan susunan masyarakat. Di sini kehidupan rohani tidak diacuhkan, dan intelek manusia diakui hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan kebendaan. Realisme yang menjadi dasar kebendaan ini didasarkan pada perhitungan bahwa alam dikuasai oleh undang-undang kebendaan dipinjam dari cara berpikir secara ilmu pengetahuan yang berlebih-lebihan dan dicampur dengan teori-teori metafisika dan teori yang non-materialistis tentang sejarah yang sebenarnya tidak dibenarkan mencampur adukkannya.
e. Realisme sebenarnya
Pengarang realis yang sejati adalah pengarang yang berusaha untuk menunjukkan dalam karyanya pemandangan kesatuan yang utuh, yang melukiskan gambaran bulat tentang manusia serta hubungannya dengan dunia tempatnya hidup dan bekerja. Yang jelasnya pengarang harus melukiskan kenyataan jasmani beserta kenyataan rohani secara harmonis dan logis.
Realisme Sebenarnya, haruslah berusaha untuk menggambarkan kehidupan sedemikian rupa sehingga mencakup segala segi penghidupan, baik dalam manifestasi jasmani, intelektual, maupun manifestasi rohaninya. Dengan kata lain realisme sebenarnya harus menyatakan sekuat daya dan kesanggupan pengarang, bagaimana gerak hidup manusia, serta kesatuan hukum-hukum alam yang berliku-liku itu menggerakkan dan menguasai gerak hidup manusia.
f. Naturalisme
Aliran naturalisme muncul sebagai reaksi terhadap aliran romantik. Pengarang naturalis yang terkenal adalah Zola, yang terus-terang menggambarkan kehidupan seksual manusia. Bagi Zola, dunia yang nyata inilah satu-satunya dunia.
Sebenarnya batas antara realisme dan naturalisme amatlah kabur. Pengarang naturalis juga melukiskan dengan cermat dan teliti apa yang dapat dilihat. Umumnya orang memasukkan ke dalam golongan ini para pengarang yang terutama memusatkan perhatian pada alam benar, pada manifestasi kebendaan dari kehidupan manusia, manusia sebagai makhluk alam dengan hasrat-hasrat serta kekurangan-kekurangan kemanusiaannya.
g. Ekspresionisme
Dalam aliran ekspresionisme ini semua meluapkan dari dalam jiwa pengarang sendiri. Dalam ekspresionesme alam benda beserta bentuk-bentuk kebendaannya dikalahkan oleh alam jiwa dan manifestasi kejiwaan. Jadi, jelaslah perbedaannya dengan aliran natural dan realime, pengarang sedapat mungkin berdiri diluar tanpa mencampur adukkan perasaannya dengan para pelaku dalam karangannya.
h. Simbolisme
Simbolisme itu dijalin dan disusun dalam cerita, maka sering disebutkan berulang-ulang oleh sang pengarang, di dorongkan ke tengah-tengah perhatian para pembaca. Pun simbol tersebut dapat pula merupakan sesuatu yang dikandung oleh seluruh isi cerita. Cerita-cerita seperti ini biasa disebut cerita yang beraliran simbolisme. 
Dalam merangkai cerita dipergunakan simbol-simbol sebagai salah satu tanda bahwa manusia itu berpikir. Juga dalam fiksi dan dalam kesusastraan pada umunya banyak dipergunakan simbol-simbol. Sebuah simbol adalah sebuah benda, sesuatu yang kongkret. Warna, kejadian alam, dan lain-lain dapat dipergunakan dalam melambangkan kehidupan atau perasaan manusia.
Uraian diatas berdasarkan gagasan yang dikemukakan oleh Mohtar Lubis dalam "Teknik Mengarang (1960).

2.3.3 Berdasarkan Kritik Sastra
Robert Liddel membuat pengkategorian novel bagi karya fiksi yang umum, diantaranya :
1. Novel yang menuntut karya sastra yang serius.
·            Novel-novel yang baik
Walaupun sang kritikus akan menolak untuk mengadakan suatu jenis ukuran penilaian bagi para noveis, atau untuk memberi ciri-ciri pada karya mereka, namun sang kritikus sebenarnya dapat saja berbicara, misalnya mengenai "novel-novel agung" atau tentang "klasik-klasik minor". Istilah-istilah tersebut memang telah salah digunakan artinya; maka adalah tugas kritikus untuk mengembalikan nilai yang sebenarnya itu pada perbedaan-perbedaan serta penyimpangan-penyimpangan yang sedemikian rupa.
·            Novel-novel yang mungkin baik
Para penulis menaruh minat pada sensibilitas yang mendalam, dan memang ingin mencurahkan perhatian dan perasaannya dengan baik, tetapi karena beberapa hal buku-buku tersebut menjadi buruk karena tidak teratur ataupun kegagalan-kegagalan teknis, dan sebagainya.

2. Novel-novel yang berada di bawah taraf kritik sastra yang serius. 
·      Taraf sedang
·      Taraf rendah
Dari sudut pandang sastra tentu saja tidak memadai pembedaan antara kedua kategori utama fiksi "yang dianggap sebagai yang berada di bawah kritik sastra yang serius". Tetapi dari sudut pandang sosiologi, perbedaan antara karya "taraf sedang" dan "taraf rendah" itu sangat besar. (Liddell;1962:20-22) 


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      Pengkajian terhadap karya fiksi, berarti penelaah, penyelidikan, atau mengkaji, menelaah, menyelidiki karya fiksi tersebut.
2.      Heuristik merupakan pembacaan karya sastra pada system semiotik tingkat pertama, berupa pemahaman makna sebagaimana yang dikonvensikan oleh bahasa (yang bersangkutan) yaitu pengetahuan tentang bahasa itu, kompetensi terhadap kode bahasa.
3.      Hermeneutik merupakan pemahaman keseluruhan berdasarkan unsur-unsurnya dan sebaliknya, pemahaman unsur-unsur berdasarkan keseluruhannya.
4.      Pengkajian struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarberbagai unsur karya sastra yang yang secara bersama menghasilakan sebuah keseluruhan.
5.      Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
6.      Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (teks kesastraan), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lain-lain, di antara teks-teks yang dikaji.





3.2    Hakikat Kegiatan Fiksi
Pengkajian terhadap karya fiksi berarti penelaahan, penyelidikan, atau mengkaji, menelaah, menyelidiki karya fiksi tersebut. Padaumumnnya, kegiatan pengkajian ini diseertai oleh kerja analisis yaitu mengurai karya itu atas unsur-unsur pembentukan tersebut, yaitu yang berupa unsur-unsur intrinsiknya. Tujuan utama kerja analisis kesastraan, fiksi, puisi ataupun yang lain adalah  untuk dapat memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, disamping untuk membantu enjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu.



DAFTAR ISI

COVER...........................................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................
1.1  Latar Belakang...........................................................................................
1.2  Rumusan Masalah.......................................................................................
1.3 Tujuan Makalah..........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................
2.1 Hakikat Fiksi..............................................................................................
2.1.1 Heuristik dan Hermeneutik.....................................................................
2.2 Unsur-Unsur Fiksi......................................................................................
2.2.1 Intrinsik dan Ekstrinsik...........................................................................
2.2.2 Fakta, Tema, Sarana Cerita......................................................................
2.2.3  Cerita dan Wacana.................................................................................
2.3 Klasifikasi Fiksi..........................................................................................
2.3.1 Berdasarkan Bentuk................................................................................
2.3.2 Berdasarkan Isi........................................................................................
2.3.3 Berdasarkan Kritik Sastra........................................................................
BAB III PENUTUP.......................................................................................
3.1     Kesimpulan...............................................................................................
3.2    Hakikat Kegiatan Fiksi..............................................................................
3.3    Heuristik dan Hermeneutik.......................................................................
DAFTAR PUSTAKA






KATA PENGANTAR

Dengan puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: “Apresiasi Puisi”.
Saya menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan serta berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini saya menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Terutama kepada dosen pengampu Bapak Dr. Supriyono, M.Pd., M.M
Makalah ini memang masih  jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, saya akan menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini, dan saya berharap makalah ini dapat berguna bagi yang membacanya.

Bandar Lampung,    Oktober 2017


Penyusun




 



MAKALAH
APRESIASI PUISI
Dosen Pengampu :
Dr. Supriyono, M.Pd., M.M.

Disusun Oleh
Kelompok 10










PROGRAM PASCASARJANA
STKIP PGRI BANDAR LAMPUNG
TAHUN AKADEMIK
2017/2018


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar