Sabtu, 28 Oktober 2017

MAKALAH METODE BRAINSTROMING

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Istilah metode dalam pendidikan banyak digunakan untuk menunjukan serangkaian kegiatan guru yang terarah dan menyebabkan siswa belajar. Sebagai cara atau prosedur metode digunakan untuk mencapai keberhasilan dalam belajar, atau sebagai alat yang menjadikan kegiatan belajar mengajar menjadi efektif. Karena dianggap sebagai suatu proses maka metode terdiri dari beberapa langkah.
Metode pembelajaran dapat diartikan pula sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (M Saikhul Arif, 2011). Kemudian, Salamun (2002) mengungkapkan, metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda.

Beberapa metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sedang banyak dikembangkan.Oleh karena itu, pengetahuan mengenai metode-metode pembelajaran sangat diperlukan oleh para pendidik, karena berhasil tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.

John dewey mengungkap salah satu prinsip belajar dan pembelajaran  yaitu  learning by doing, dimana melalui pengalaman pelajar dapat melakukan proses belajar dengan mengamati dan mengalami lalu memasukkan pengalaman belajarnya ke dalam konsepsinya. Metode pembelajaran hendaknya mampu membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar murid, prestasi belajar siswa dan kemampuan berpikir kritisnya.Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode pembelajaran merupakan salah satucara yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan
1.2  Rumusan Masalah
1. Pengertian Metode Brainstorming
a. Tugas Guru dan Siswa Dalam Metode Brainstorming
b. Langkah-langkah Penggunaan Metode Brainstorming
2.  Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming Dalam Proses Pembelajaran
3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian, tugas guru dan siswa serta langkah-langkah metode Brainstorming.
2.      Untuk mengetahui Penggunaan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran
3.      Untuk Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metode Brainstorming
Brainstorming adalah suatu strategi atau metode pemecahan masalah kreatif yang diluncurkan oleh Alex F. Osborn pada tahun 1953. Metode yang menitikberatkan pada pengungkapan pendapat ini bermula dengan keinginan Osborn untuk mendorong karyawannya supaya dapat berpikir kreatif mencari solusi dari permasalahan yang ada pada perusahaannya dengan cara berdiskusi dimana setiap karyawannya bebas mengungkapkan pendapat. Pada waktu itu, setelah iklan dari agen periklanan yang dipimpin Osborn dapat disukseskan, ia berencana untuk menciptakan iklan baru yang lebih nyata. Dalam memutuskan strategi, ia memilih cara yang berbeda dengan meminta semua karyawannya untuk menyampaikan gagasannya yang dimiliki oleh mereka untuk kemudian didiskusikan hingga didapatkan keputusan yang terbaik. Osborn menampung semua gagasan dan mendiskusikannya dengan menggunakan metode brainstorming. Lebih lanjut, gagasan ini memiliki dasar bahwa pendapat yang ada dikumpulkan tanpa mempedulikan pendapat tersebut muncul dari siapa yang mengeluarkan pendapat (Dahlan, 2006:11).
Keberadaan anggota dalam mengungkapkan untuk menyatakan buah pikirannya sangatlah jelas diperlukan dalam pelaksanaan branstorming. Dalam kenyataannya, ide yang muncul mengenai penggunaan metode branstorming sangat afektif untuk mendapatkan suatu gagasan yang baik dalam mengatasi permasalahan secara kreatif. Pemikiran-pemikiran dan gagasan yang dimiliki oleh setiap anggotanya mampu mendorong mengatasi permasalahan yang dihadapi secara kreatif. Metode ini dapat digunakan pada dunia bisnis maupun keuangan, kemudian berkembang seiring dengan banyaknya inovasi di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan juga dalam bidang pendidikan yang memerlukan pertukaran di gagasan di dalamnya. Dalam perkembangannya metode brainstorming ini kemudian dikenal juga dengan metode curah pendapat. “Curah pendapat adalah metode pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok yang peserta didiknya memiliki latar belakang dan pengetahuan yang berbeda-beda” (Sudjana, 2001:86). Kegiatan ini dilakukan untuk menghimpun gagasan atau pendapat dalam rangka menentukan dan memilih berbagai pernyataan sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar, sumber-sumber, hambatan dan lain sebagainya. Setiap siswa diberi kesempatan secara bergiliran untuk menyampaikan pernyataan tentang pendapat atau gagasannya.
Namun menurut Roestiyah dibukunya Strategi Belajar Mengajar  bahwa Metode Brainstorming adalah suatu metode atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat(Roestiyah 2001: 73).
Sejalan dengan Roestiyah, Hatimah (2003:32) menyebutkan bahwa “curah pendapat atau branstorming merupakan suatu cara untuk menghimpun gagasan atau pendapat dari setiap warga belajar tentang suatu permasalahan. Metode branstorming mendorong siswa untuk mengembangkan dan menemukan sebanyak mungkin gagasan untuk memecahkan masalah. Kemudian pada tahap berikutnya dinilai gagasan mana yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Ada 4 aturan dasar yang harus diperhatikan dalam proses pengungkapan pendapat, yaitu:
1.      Kritik dan penilaian yang merugikan pemunculan gagasan untuk sementara ditunda (deferred-judgement). Aturan ini sebenarnya menyiratkan bahwa kritikan dapat membuat orang lain spontan dalam berfikir, tetapi jika kritikan yang ada ternyata dapat menimbulkan seseorang menjadi kurang percaya diri sebaiknya kritikan dihindari saja.
2.      Sambut gagasan yang kelihatan liar dan bebas. Aturan ini menyatakan bahwa kita harus menyambut gagasan, terutama yang terasa berbeda atau bahkan hampir mendekat solusi.
3.      Semakin banyak gagasan semakin bagus dan semakin besar kemungkinan didapatkannya gagasan yang baik. Aturan ini menyiratkan bahwa kuantitas dari gagasan juga diperlukan.
4.      Lakukan kombinasi dan perbaikan gagasan para siswa hingga menjadi gagasan yang terbaik. (Dahlan, 2006:12).
Berdasarkan pernyataan diatas, jelaslah bahwa keikutsertaan siswa dalam berpendapat dan berdiskusi dengan kelompoknya untuk menghasilkan solusi yang baik dapat mengembangkan potensi dan keberanian siswa, karena mereka memiliki latar belakang yang berbeda dan potensi yang dimilikinya pun berbeda. Setiap siswa memiliki potensi yang tinggi asalkan mereka berani menuangkan seluruh ide dan gagasan yang dimilikinya. Pengetahuan siswa pun akan menjadi lebih berkembang. Dalam metode brainstorming, guru harus dapat menampung dan mengkombinasikan gagasan-gagasan yang ada sehingga tercipta gagasan yang benar. Hal ini tentu akan memuat pemahaman siswa terhadap pembelajaran sejarah yang lebih utuh dan integratif.

2.2 Langkah-langkah Metode Pembelajaran Brainstorming
Menurut Dunn and  Dunn (dalam Sapriya, 2009: 145) model brainstorming dapat mendorong siswa berpikir kritis. Dalam proses  brainstorming yang dimodifikasikan dengan keterampilan berpikir kritis ini mencakup beberapa langkah berikut:
a.       Pada fokus awal, guru mendorong siswa untuk memikirkan bagaimana cara terbaikuntuk memecahkan masalah.
b.      Guru mengajukan pertanyaan berikutnya, mengapa pemikiran ini belum dilaksanakan juga.
c.       Setelah para siswa menjawab pertanyaan ini, guru bertanya pada siswa lainnya, membantu siswa yang sedang berfikir.
d.      Pada langkah ini guru meminta siswa memikirkan masalah yang mungkin dihadapi dalam menjawab pertanyaan terdahulu.
e.       Para siswa diminta untuk menentukan apakah langkah pertama untuk memecahkan masalah.
Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan metode brainstorming : 
1.    Pemberian informasi dan motivasi
a.       Guru menjelaskan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya dan mengajak peserta didik aktif untuk menyumbangkan pemikirannya.
b.      Identifikasi
Pada tahap ini peserta didik diundang untuk memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang masuk ditampung, ditulis dan tidak dikritik. Pimpinan kelompok dan peserta hanya boleh bertanya untuk meminta penjelasan. Hal ini agar kreativitas peserta didik tidak terhambat. 
c.       Klasifikasi
Semua saran dan masukan peserta ditulis. Langkah selanjutnya mengklasifikasikan berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa berdasarkan struktur/ faktor-faktor lain. 
d.      Verifikasi
Kelompok secara bersama melihat kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahannya. Apabila terdapat sumbang saran yang sama diambil salah satunya dan sumbang saran yang tidak relevan bisa dicoret. Kepada pemberi sumbang saran bisa diminta argumentasinnya.
2.        Konklusi (Penyepakatan)
Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
metode brainstorming dapat menanamkan inhibisi pada pemikiran kreatif, karena ide-ide terlalu aneh dari beberapa anggota bisa menggoncangkan gairah berpikir orang lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang mengungkapkan bahwa dalam belajar memang diperlukan suasana yang mampu membangun semangat dan gairah peserta didik.
2.3 Tugas Guru dan Siswa Dalam Metode Brainstorming
Sebagai salah satu metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dalam pelaksanaan brainstorming diperluakan suatu fasilitator untuk memulai, melaksanakan kegiatan dan mendorong keikutsertaan semua anggota yang ada selama kegiatan berlangsung. Surjadi yang dikutip oleh Tuti Indrayani (2005:15) mengemukakan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru dalam metode brainstorming untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tugas guru tersebut diantaranya sebagai berikut:
1.            Mengemukakan masalah atau materi kepada kelompok.
2.            Menunjuk seorang penulis yang mencatat cara yang diajukan anggota kelompok.
3.            Menerapakan peraturn pokok bagi para anggota seperti mengemukakan pemecahan dengan cepat, mengemukakan gagasan yang terlintas dalam pikiran menghindari mengevaluasi orang lain.
4.            Menentukan berapa lama kegiatan pengungkapan pendapat berlangsung
5.            Meminta saran penelaah.
Berdasarkan penjelasan diatas, dalam pelaksanaan metode ini tugas guru adalah memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka bisa menanggapi, dan guru tidak boleh mengomantari bahwa pendapat siswa itu benar atau salah. Disamping itu, pendapat yang dikemukakan tidak perlu langsung disimpulkan, guru hanya menampung semua pernyataan pendapat siswa, sehingga semua siswa didalam kelas mendapatkan giliran. Selama pengungkapan pendapat tidak perlu komentar atau evaluasi secara langsung.
Sedangkan peran siswa dalam metode brainstorming ini adalah bertugas memiliki bekal pengetahuan untuk menanggapi masalah, mengemukakan pendapat, bertanya, atau mengemukakan masalah baru melalui proses imajinasi yang dimilikinya. Mereka belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik, sehingga mereka bisa memperoleh suatu kesimpulan yang tepat setelah pembelajaran. Siswa yang kurang aktif perlu dipancing dengan pertanyaan dari guru agar turut berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya.
Nakamura dalam Dahlan (2006:13) menggambarkan proses imajinasi siswa dalam metode brainstorming hingga didapatkan gagasan atau kesimpulan yang benar

2.4 Kelebihan Metode Brainstorming
Metode Brainstorming memiliki banyak kelebihan. Beberapa ahli seperti Sudjana (2001:88) mengungkapkan kelebihan dari metode brainstorming sebagai berikut:
a.       Merangsang semua peserta didik untuk mengemukakan pendapat dan gagasan,
b.      Menghasilkan jawaban atau atau pendapat melalui reaksi berantai,
c.       Penggunaan waktu dapat dikontrol dan metode ini dapat digunakan dalam kelompok besar atau kecil,
d.      Tidak memerlukan banyak alat atau tenaga professional.
Senada dengan Sudjana, Subana yang dikutip oleh Tuti Indrayani (2005:13) mengungkapkan banyak sekali kelebihan dari metode Brainstorming. Diantaranya sebagai berikut:
a.        Mendorong siswa untuk aktif berfikir cepat dan tersusun logis,
b.        Mendorong siswa untuk menyatakan pendapatnya dan merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru,
c.        Terjadi persaingan yang sehat,
d.       Suasana demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan.
a.       Roestiyah (1985:74) mengungkapkan beberapa kelebihan metode
Brainstorming lainnya, yaitu sebagai berikut:
a.        Anak-anak aktif berfikir untuk menyatakan pendapat,
b.        Melatih siswa bepikir dengan cepat dan tersusun logis,
c.        Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran,
d.       Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannnya yang pandai atau dari guru,
e.        Terjadi persaingan yang sehat,
f.         Anak merasa bebas dan gembira,
g.        Suasana demokrasi dan disiplin dapat ditumbuhkan.

2.5 Kelemahan Metode Brainstorming
Selain memiliki banyak kelebihan, metode Brainstorming juga memiliki kelemahan. Berikut kelemahan-kelemahan metode Brainstorming yang dikemukakan oleh (Sudjana, 2001:88) adalah sebagai berikut:
a.       Peserta didik yang kurang perhatian dan kurang berani mengemukakan pendapat akan merasa terpaksa untuk menyampaikan buah pikirannya.
b.      Jawaban mudah cenderung mudah terlepas dari pendapat yang berantai.
c.       Peserta didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapatnya diterima,
d.      Memerlukan evalusi lanjutan untuk menentukan prioritas pendapat yang disampaikan,
e.       Anak yang kurang selalu ketinggalan,
f.       Kadang-kadang pembicaraan hanya dimonopoli oleh anak yang pandai saja.

a.        Sedangkan menurut (Roestiyah, 2001:74-75) kekurangan metode
Brainstorming adalah sebagai berikut:
a.       Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik,
b.      Anak yang kurang pandai selalu ketinggalan,
c.       Guru hanya menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan,
d.      Tidak menjamin hasil pemecahan masalah,
e.       Masalah bisa berkembang ke arah yang tidak diharapkan.
Satu hal yang wajar jika dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode tertentu terdapat kelebihan dan kelemahan didalamnya. Metode pembelajaran Brainstorming memiliki klebihan, yaitu terdapat suatu tahap identifikasi kebutuhan, sumber, dan kemungkinan hambatan dalam pembelajara. Dalam pelaksanannya setiap siswa dengan penerapan metode ini dapat lebih terdorong motivasinya untuk mengikuti pelajaran, sehingga pelajaranpun dirasakan menjadi lebih bermakna. Untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam penerapan metode ini, diperlukan suatu keterampilan dari guru dalam hal bertanya ataupun mengelola kelas agar kegiatan lebih dapat dirasakan maksimal. Dalam penelitian ini, misalnya dilakukan dengan penampilan media semaksimal mungkin agar pendapat yang ada tidaklah jauh menyimpang dari fokus masalah yang disajikan.
BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran partisipatif dapat digolongkan ke dalam tiga kategori, diantaranya adalah metode pembelajaran perorangan (individual methods), metode pembelajaran kelompok (group methods), dan metode pembelajaran massal (community methods), dan metode brainstorming merupakan salah satu contoh metode dalam  pembelajaran partisipasif. Metode Brainstorming sendiri adalah suatu metode atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat.
Dalam pelaksanaan metode ini tugas guru adalah memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka bisa menanggapi, dan guru tidak boleh mengomantari bahwa pendapat siswa itu benar atau salah. Sedangkan peran siswa dalam metode brainstorming ini adalah bertugas memiliki bekal pengetahuan untuk menanggapi masalah, mengemukakan pendapat, bertanya, atau mengemukakan masalah baru melalui proses imajinasi yang dimilikinya. Mereka belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik, sehingga mereka bisa memperoleh suatu kesimpulan yang tepat setelah pembelajaran.
Metode Brainstorming mempunyai kelebihan antara lain untuk menguras habis segala seuatu yang dipikirkan oleh siswa dalam menanggapi masalah yang dilontarkan guru kepadanya serta untuk memperoleh berbagai kemungkinan pemecahan dari suatu masalah. Namun, kekurangan dari metode ini antara lain yaitu Peserta didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapatnya akan diterima serta guru juga dirasa kurang dalam memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, M Saikhul. (2011). Pengertian Strategi, Metode, Teknik dan Taktik.[Online].http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif?p=3. [22 Agustus 2013]
Djamarah danZain. (2010 ). StrategiBelajar Mengajar. Jakarta: RinekaCipta.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Roestiyah.(2008). StrategiBelajarMengajar.Jakarta :RinekaCipta
Salamun, M. (2002).Strategi Pembelajaran Bahasa Arab di PondokPesantren.Tesis: Tidakditerbitkan.
Sapriya.(2009). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.Bandung :Laboratorium PKN UPI.
Sudjana, D. 2001. Metode & Metode Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.
Suparman, Atwi. (1997). Model-model Pembelajaran Interaktif .Bandung :LembagaAdministrasi Negara (LAN) RI.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar