BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah metode dalam pendidikan banyak
digunakan untuk menunjukan serangkaian kegiatan guru yang terarah dan
menyebabkan siswa belajar. Sebagai cara atau prosedur metode digunakan untuk
mencapai keberhasilan dalam belajar, atau sebagai alat yang menjadikan kegiatan
belajar mengajar menjadi efektif. Karena dianggap sebagai suatu proses maka
metode terdiri dari beberapa langkah.
Metode pembelajaran dapat diartikan pula sebagai cara yang
digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (M Saikhul Arif,
2011). Kemudian, Salamun
(2002) mengungkapkan, metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk
mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda.
Beberapa metode pembelajaran yang
berpusat kepada siswa dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sedang
banyak dikembangkan.Oleh karena itu, pengetahuan mengenai metode-metode
pembelajaran sangat diperlukan oleh para pendidik, karena berhasil tidaknya
siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang
digunakan oleh guru.
John dewey mengungkap salah satu prinsip
belajar dan pembelajaran yaitu learning by doing, dimana melalui pengalaman pelajar
dapat melakukan proses belajar dengan mengamati dan mengalami lalu memasukkan
pengalaman belajarnya ke dalam konsepsinya. Metode pembelajaran hendaknya mampu
membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar murid, prestasi belajar siswa
dan kemampuan berpikir kritisnya.Berdasarkan
uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode
pembelajaran merupakan salah satucara yang dilakukan oleh seorang guru agar
terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan
1.2 Rumusan Masalah
1. Pengertian Metode
Brainstorming
a. Tugas Guru dan Siswa Dalam Metode Brainstorming
b. Langkah-langkah Penggunaan Metode Brainstorming
2. Kelebihan dan
Kekurangan Metode Brainstorming Dalam Proses Pembelajaran
3. Kelebihan dan Kekurangan
Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian, tugas guru dan siswa serta langkah-langkah
metode Brainstorming.
2. Untuk mengetahui Penggunaan Metode Brainstorming Dalam Pembelajaran
3. Untuk Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming Dalam
Pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metode Brainstorming
Brainstorming
adalah suatu strategi atau metode pemecahan masalah kreatif yang diluncurkan
oleh Alex F. Osborn pada tahun 1953. Metode yang menitikberatkan pada
pengungkapan pendapat ini bermula dengan keinginan Osborn untuk mendorong
karyawannya supaya dapat berpikir kreatif mencari solusi dari permasalahan yang
ada pada perusahaannya dengan cara berdiskusi dimana setiap karyawannya bebas
mengungkapkan pendapat. Pada waktu itu, setelah iklan dari agen periklanan yang
dipimpin Osborn dapat disukseskan, ia berencana untuk menciptakan iklan baru
yang lebih nyata. Dalam memutuskan strategi, ia memilih cara yang berbeda
dengan meminta semua karyawannya untuk menyampaikan gagasannya yang dimiliki
oleh mereka untuk kemudian didiskusikan hingga didapatkan keputusan yang
terbaik. Osborn menampung semua gagasan dan mendiskusikannya dengan menggunakan
metode brainstorming. Lebih lanjut, gagasan ini memiliki dasar bahwa pendapat
yang ada dikumpulkan tanpa mempedulikan pendapat tersebut muncul dari siapa
yang mengeluarkan pendapat (Dahlan, 2006:11).
Keberadaan
anggota dalam mengungkapkan untuk menyatakan buah pikirannya sangatlah jelas
diperlukan dalam pelaksanaan branstorming. Dalam kenyataannya, ide yang muncul
mengenai penggunaan metode branstorming sangat afektif untuk mendapatkan suatu
gagasan yang baik dalam mengatasi permasalahan secara kreatif.
Pemikiran-pemikiran dan gagasan yang dimiliki oleh setiap anggotanya mampu
mendorong mengatasi permasalahan yang dihadapi secara kreatif. Metode ini dapat
digunakan pada dunia bisnis maupun keuangan, kemudian berkembang seiring dengan
banyaknya inovasi di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan juga dalam bidang
pendidikan yang memerlukan pertukaran di gagasan di dalamnya. Dalam
perkembangannya metode brainstorming ini kemudian dikenal juga dengan metode
curah pendapat. “Curah pendapat adalah metode pembelajaran yang dilakukan dalam
kelompok yang peserta didiknya memiliki latar belakang dan pengetahuan yang
berbeda-beda” (Sudjana, 2001:86). Kegiatan ini dilakukan untuk menghimpun
gagasan atau pendapat dalam rangka menentukan dan memilih berbagai pernyataan
sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan kebutuhan belajar,
sumber-sumber, hambatan dan lain sebagainya. Setiap siswa diberi kesempatan
secara bergiliran untuk menyampaikan pernyataan tentang pendapat atau
gagasannya.
Namun
menurut Roestiyah dibukunya Strategi Belajar Mengajar bahwa Metode Brainstorming adalah suatu metode atau mengajar yang
dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah
ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau
komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru,
atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari
sekelompok manusia dalam waktu yang singkat(Roestiyah 2001: 73).
Sejalan
dengan Roestiyah, Hatimah (2003:32) menyebutkan bahwa “curah pendapat atau
branstorming merupakan suatu cara untuk menghimpun gagasan atau pendapat dari
setiap warga belajar tentang suatu permasalahan. Metode branstorming mendorong
siswa untuk mengembangkan dan menemukan sebanyak mungkin gagasan untuk
memecahkan masalah. Kemudian pada tahap berikutnya dinilai gagasan mana yang
paling mungkin untuk dilaksanakan. Ada 4 aturan dasar yang harus diperhatikan
dalam proses pengungkapan pendapat, yaitu:
1.
Kritik dan
penilaian yang merugikan pemunculan gagasan untuk sementara ditunda (deferred-judgement).
Aturan ini sebenarnya menyiratkan bahwa kritikan dapat membuat orang lain
spontan dalam berfikir, tetapi jika kritikan yang ada ternyata dapat
menimbulkan seseorang menjadi kurang percaya diri sebaiknya kritikan dihindari
saja.
2.
Sambut gagasan
yang kelihatan liar dan bebas. Aturan ini menyatakan bahwa kita harus menyambut
gagasan, terutama yang terasa berbeda atau bahkan hampir mendekat solusi.
3.
Semakin
banyak gagasan semakin bagus dan semakin besar kemungkinan didapatkannya
gagasan yang baik. Aturan ini menyiratkan bahwa kuantitas dari gagasan juga
diperlukan.
4.
Lakukan
kombinasi dan perbaikan gagasan para siswa hingga menjadi gagasan yang terbaik.
(Dahlan, 2006:12).
Berdasarkan
pernyataan diatas, jelaslah bahwa keikutsertaan siswa dalam berpendapat dan
berdiskusi dengan kelompoknya untuk menghasilkan solusi yang baik dapat
mengembangkan potensi dan keberanian siswa, karena mereka memiliki latar
belakang yang berbeda dan potensi yang dimilikinya pun berbeda. Setiap siswa
memiliki potensi yang tinggi asalkan mereka berani menuangkan seluruh ide dan
gagasan yang dimilikinya. Pengetahuan siswa pun akan menjadi lebih berkembang.
Dalam metode brainstorming, guru harus dapat menampung dan mengkombinasikan
gagasan-gagasan yang ada sehingga tercipta gagasan yang benar. Hal ini tentu
akan memuat pemahaman siswa terhadap pembelajaran sejarah yang lebih utuh dan
integratif.
2.2 Langkah-langkah Metode Pembelajaran Brainstorming
Menurut Dunn and Dunn (dalam Sapriya, 2009: 145) model brainstorming dapat mendorong
siswa berpikir kritis. Dalam proses brainstorming yang dimodifikasikan dengan
keterampilan berpikir kritis ini mencakup beberapa langkah berikut:
a. Pada
fokus awal, guru mendorong siswa untuk memikirkan bagaimana cara terbaikuntuk
memecahkan masalah.
b. Guru
mengajukan pertanyaan berikutnya, mengapa pemikiran ini belum dilaksanakan
juga.
c. Setelah
para siswa menjawab pertanyaan ini, guru bertanya pada siswa lainnya, membantu
siswa yang sedang berfikir.
d. Pada
langkah ini guru meminta siswa memikirkan masalah yang mungkin dihadapi dalam
menjawab pertanyaan terdahulu.
e. Para
siswa diminta untuk menentukan apakah langkah pertama untuk memecahkan masalah.
Berikut ini adalah langkah-langkah
pembelajaran yang menggunakan metode brainstorming :
1. Pemberian
informasi dan motivasi
a. Guru
menjelaskan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya dan mengajak
peserta didik aktif untuk menyumbangkan pemikirannya.
b. Identifikasi
Pada tahap ini peserta didik diundang untuk memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang masuk ditampung, ditulis dan tidak dikritik. Pimpinan kelompok dan peserta hanya boleh bertanya untuk meminta penjelasan. Hal ini agar kreativitas peserta didik tidak terhambat.
Pada tahap ini peserta didik diundang untuk memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang masuk ditampung, ditulis dan tidak dikritik. Pimpinan kelompok dan peserta hanya boleh bertanya untuk meminta penjelasan. Hal ini agar kreativitas peserta didik tidak terhambat.
c. Klasifikasi
Semua saran dan masukan peserta ditulis. Langkah selanjutnya mengklasifikasikan berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa berdasarkan struktur/ faktor-faktor lain.
Semua saran dan masukan peserta ditulis. Langkah selanjutnya mengklasifikasikan berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa berdasarkan struktur/ faktor-faktor lain.
d. Verifikasi
Kelompok secara bersama melihat kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahannya. Apabila terdapat sumbang saran yang sama diambil salah satunya dan sumbang saran yang tidak relevan bisa dicoret. Kepada pemberi sumbang saran bisa diminta argumentasinnya.
Kelompok secara bersama melihat kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahannya. Apabila terdapat sumbang saran yang sama diambil salah satunya dan sumbang saran yang tidak relevan bisa dicoret. Kepada pemberi sumbang saran bisa diminta argumentasinnya.
2.
Konklusi (Penyepakatan)
Guru/pimpinan kelompok beserta
peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang
disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan
masalah yang dianggap paling tepat.
metode brainstorming dapat menanamkan
inhibisi pada pemikiran kreatif, karena ide-ide terlalu aneh dari beberapa
anggota bisa menggoncangkan gairah berpikir orang lain. Hal ini sesuai dengan
pernyataan yang mengungkapkan bahwa dalam belajar memang diperlukan suasana
yang mampu membangun semangat dan gairah peserta didik.
2.3 Tugas Guru dan Siswa Dalam Metode Brainstorming
Sebagai
salah satu metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dalam pelaksanaan
brainstorming diperluakan suatu fasilitator untuk memulai, melaksanakan
kegiatan dan mendorong keikutsertaan semua anggota yang ada selama kegiatan
berlangsung. Surjadi yang dikutip oleh Tuti Indrayani (2005:15) mengemukakan
tugas-tugas yang harus dilakukan oleh guru dalam metode brainstorming untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Tugas guru tersebut diantaranya sebagai
berikut:
1.
Mengemukakan
masalah atau materi kepada kelompok.
2.
Menunjuk
seorang penulis yang mencatat cara yang diajukan anggota kelompok.
3.
Menerapakan
peraturn pokok bagi para anggota seperti mengemukakan pemecahan dengan cepat,
mengemukakan gagasan yang terlintas dalam pikiran menghindari mengevaluasi
orang lain.
4.
Menentukan
berapa lama kegiatan pengungkapan pendapat berlangsung
5.
Meminta
saran penelaah.
Berdasarkan
penjelasan diatas, dalam pelaksanaan metode ini tugas guru adalah memberikan
masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka bisa menanggapi,
dan guru tidak boleh mengomantari bahwa pendapat siswa itu benar atau salah.
Disamping itu, pendapat yang dikemukakan tidak perlu langsung disimpulkan, guru
hanya menampung semua pernyataan pendapat siswa, sehingga semua siswa didalam
kelas mendapatkan giliran. Selama pengungkapan pendapat tidak perlu komentar
atau evaluasi secara langsung.
Sedangkan
peran siswa dalam metode brainstorming ini adalah bertugas memiliki bekal
pengetahuan untuk menanggapi masalah, mengemukakan pendapat, bertanya, atau
mengemukakan masalah baru melalui proses imajinasi yang dimilikinya. Mereka
belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik,
sehingga mereka bisa memperoleh suatu kesimpulan yang tepat setelah
pembelajaran. Siswa yang kurang aktif perlu dipancing dengan pertanyaan dari
guru agar turut berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya.
Nakamura
dalam Dahlan (2006:13) menggambarkan proses imajinasi siswa dalam metode
brainstorming hingga didapatkan gagasan atau kesimpulan yang benar
2.4 Kelebihan Metode Brainstorming
Metode
Brainstorming memiliki banyak kelebihan. Beberapa ahli seperti Sudjana
(2001:88) mengungkapkan kelebihan dari metode brainstorming sebagai berikut:
a.
Merangsang
semua peserta didik untuk mengemukakan pendapat dan gagasan,
b.
Menghasilkan
jawaban atau atau pendapat melalui reaksi berantai,
c.
Penggunaan
waktu dapat dikontrol dan metode ini dapat digunakan dalam kelompok besar atau
kecil,
d.
Tidak
memerlukan banyak alat atau tenaga professional.
Senada dengan Sudjana, Subana
yang dikutip oleh Tuti Indrayani (2005:13) mengungkapkan banyak sekali
kelebihan dari metode Brainstorming. Diantaranya sebagai berikut:
a.
Mendorong
siswa untuk aktif berfikir cepat dan tersusun logis,
b.
Mendorong
siswa untuk menyatakan pendapatnya dan merangsang siswa untuk selalu siap
berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru,
c.
Terjadi
persaingan yang sehat,
d.
Suasana
demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan.
a. Roestiyah (1985:74) mengungkapkan beberapa kelebihan metode
Brainstorming lainnya, yaitu
sebagai berikut:
a.
Anak-anak
aktif berfikir untuk menyatakan pendapat,
b.
Melatih
siswa bepikir dengan cepat dan tersusun logis,
c.
Meningkatkan
partisipasi siswa dalam menerima pelajaran,
d.
Siswa yang
kurang aktif mendapat bantuan dari temannnya yang pandai atau dari guru,
e.
Terjadi
persaingan yang sehat,
f.
Anak merasa
bebas dan gembira,
g.
Suasana
demokrasi dan disiplin dapat ditumbuhkan.
2.5 Kelemahan Metode
Brainstorming
Selain
memiliki banyak kelebihan, metode Brainstorming juga memiliki kelemahan.
Berikut kelemahan-kelemahan metode Brainstorming yang dikemukakan oleh
(Sudjana, 2001:88) adalah sebagai berikut:
a.
Peserta
didik yang kurang perhatian dan kurang berani mengemukakan pendapat akan merasa
terpaksa untuk menyampaikan buah pikirannya.
b.
Jawaban
mudah cenderung mudah terlepas dari pendapat yang berantai.
c.
Peserta
didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapatnya diterima,
d.
Memerlukan
evalusi lanjutan untuk menentukan prioritas pendapat yang disampaikan,
e.
Anak yang
kurang selalu ketinggalan,
f.
Kadang-kadang
pembicaraan hanya dimonopoli oleh anak yang pandai saja.
a.
Sedangkan
menurut (Roestiyah, 2001:74-75) kekurangan metode
Brainstorming adalah sebagai
berikut:
a.
Guru kurang
memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik,
b.
Anak yang
kurang pandai selalu ketinggalan,
c.
Guru hanya
menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan,
d.
Tidak
menjamin hasil pemecahan masalah,
e.
Masalah bisa
berkembang ke arah yang tidak diharapkan.
Satu hal
yang wajar jika dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode
tertentu terdapat kelebihan dan kelemahan didalamnya. Metode pembelajaran
Brainstorming memiliki klebihan, yaitu terdapat suatu tahap identifikasi
kebutuhan, sumber, dan kemungkinan hambatan dalam pembelajara. Dalam
pelaksanannya setiap siswa dengan penerapan metode ini dapat lebih terdorong
motivasinya untuk mengikuti pelajaran, sehingga pelajaranpun dirasakan menjadi
lebih bermakna. Untuk mengatasi kelemahan yang ada dalam penerapan metode ini,
diperlukan suatu keterampilan dari guru dalam hal bertanya ataupun mengelola
kelas agar kegiatan lebih dapat dirasakan maksimal. Dalam penelitian ini,
misalnya dilakukan dengan penampilan media semaksimal mungkin agar pendapat
yang ada tidaklah jauh menyimpang dari fokus masalah yang disajikan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Metode yang
dapat digunakan dalam pembelajaran partisipatif dapat digolongkan ke dalam tiga
kategori, diantaranya adalah metode pembelajaran perorangan (individual
methods), metode pembelajaran kelompok (group methods), dan metode
pembelajaran massal (community methods), dan metode brainstorming
merupakan salah satu contoh metode dalam pembelajaran
partisipasif. Metode Brainstorming sendiri adalah suatu metode atau
mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan
suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan
pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi
masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan
banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat.
Dalam
pelaksanaan metode ini tugas guru adalah memberikan masalah yang mampu
merangsang pikiran siswa, sehingga mereka bisa menanggapi, dan guru tidak boleh
mengomantari bahwa pendapat siswa itu benar atau salah. Sedangkan peran siswa
dalam metode brainstorming ini adalah bertugas memiliki bekal pengetahuan untuk
menanggapi masalah, mengemukakan pendapat, bertanya, atau mengemukakan masalah
baru melalui proses imajinasi yang dimilikinya. Mereka belajar dan melatih
merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik, sehingga mereka
bisa memperoleh suatu kesimpulan yang tepat setelah pembelajaran.
Metode
Brainstorming mempunyai kelebihan antara lain untuk menguras habis segala
seuatu yang dipikirkan oleh siswa dalam menanggapi masalah yang dilontarkan
guru kepadanya serta untuk memperoleh berbagai kemungkinan pemecahan dari suatu
masalah. Namun, kekurangan dari metode ini antara lain yaitu Peserta didik
cenderung beranggapan bahwa semua pendapatnya akan diterima serta guru juga
dirasa kurang dalam memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, M Saikhul. (2011). Pengertian
Strategi, Metode, Teknik dan Taktik.[Online].http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif?p=3.
[22 Agustus 2013]
Djamarah danZain. (2010 ). StrategiBelajar Mengajar.
Jakarta: RinekaCipta.
Roestiyah. 2001. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Roestiyah.(2008). StrategiBelajarMengajar.Jakarta
:RinekaCipta
Salamun, M. (2002).Strategi Pembelajaran Bahasa
Arab di PondokPesantren.Tesis: Tidakditerbitkan.
Sapriya.(2009). Pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan.Bandung :Laboratorium PKN UPI.
Sudjana, D. 2001. Metode
& Metode Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.
Suparman, Atwi. (1997). Model-model Pembelajaran Interaktif .Bandung :LembagaAdministrasi
Negara (LAN) RI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar