BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam pengkajian sebuah puisi
hendaknya para apresiator, penikmat, bahkan sebuah penyair hendaknya melakukan
langkah awal seperti pendekatan-pendekatan secara teoritis, ada kalanya para
pecinta sastra terutama puisi ini memahami dan memiliki panduan khususnya, guna
lebih mengerti bahwa untuk melakukan sebuah pengkajian memerlukan banyak
referensi-referensi umum yang membahas secara dalam berpandukan teori
linguistik untuk mengetahui maksud puisi dan gaya bahasa serta suara-suara yang
dikaji dalam puisi bersandarkan aliran, pendekatan kajian puisi digunakan
sebagai usaha membuktikan keindahan bahasa yang universal dalam sesebuah puisi
yang memperlihatkan kebolehan penyair mengolah bahasa, memperhalusi serta
menerap daya kreatif dalam menyampaikan maksud bahasa yang digunakan.
B.
Identifikasi Masalah
Pendekatan dan pendalaman tentang
unsure-unsur dari beberapa istilah berikut ini:
Pandangan dalam beberapa istilah di
atas merupakan sebuah rujukan dan panutan dalam pengkajian puisi melalui
pendekatan.
C.
Pembatasan Masalah
1. Pengertian pendekatan Stilistik,
pendekatan Semiotik, dan pendekatan Mimetik.
3. Pandangan dari beberapa ilmuan
tentang istilah di atas.
BAB II
PEMBAHASAN
Pendekatan kajian puisi merupakan
tindakan dari teori yang mempunyai andil dalam sebuah kajian puisi berpandukan
teori linguistik untuk mengetahui maksud puisi dan gaya bahasa serta
suara-suara yang dikaji dalam puisi bersandarkan aliran, pendekatan kajian puisi digunakan
sebagai usaha membuktikan keindahan bahasa yang universal dalam sesebuah puisi
yang memperlihatkan kebolehan penyair mengolah bahasa, memperhalusi serta
menerap daya kreatif dalam menyampaikan maksud Bahasa yang digunakan.
Dalam hal ini juga
pendekatan-pendekatan tersebut meneliti tentang sejauh mana puisi
merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya
intelektualitas dengan karya lain. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam
sastra adalah hubungan dialektis atau bertangga. Pandangan-pandangan pendekatan
ini ada karena adanya anggapan bahwa puisi merupakan tiruan alam atau
penggambaran dunia dan kehidupan manusia di semesta raya ini.
2.1.
Pendekatan Stilistik
Pendekatan stilistik, sebagai kajian
utama. Pendekatan stilistik melihat tentang pengaruh puisi tradisional dalam
puisi serta diksi yang diterapkan oleh penyair. Penelitian dilakukan
berpandukan teori linguistik untuk mengetahui maksud puisi. Gaya bahasa dan
suara-suara yang dikaji dalam puisi bersandarkan aliran ekspresionisme dalam
kedua-dua kumpulan puisi. Selain itu, pengkaji juga meneliti gaya idiosinkrasi
penyair tersebut dan kesesuaian bahasa serta kepenyairannya. Pendekatan
stilistik digunakan sebagai usaha membuktikan keindahan bahasa yang universal
dalam sesebuah puisi. Tujuan ini juga memperlihatkan kebolehan penyair mengolah
bahasa, memperhalusi serta menerap daya kreatif dalam menyampaikan maksud
Bahasa yang digunakan merupakan kekuatan yang di tentukan oleh kesesuaian dan
ketepatan yang mendukung makna serta persoalan yang ditimbulkan. Penggunaan
bahasa yang baik rnungkin rnelanggar tatabahasa untuk rnenggambarkan kehalusan
perasaan dan fikiran penyair Usaha ini diharapkan dapat memperkayakan koleksi
kajian terhadap puisi-puisi tanahair serta memartabatkan penyair-penyair lama
dan yang baru
2.2.
Pendekatan Semiotik
Pendekatan Semiotik merupakan salah
satu kritikan yang penting dan popular dalam bidang bahasa dan kesusasteraan.
Pendekatan ini kritik ini menggunakan prinsip-prinsip teori Semiotik
sebagaiamana yang yang dikemukakan oleh beberapa orang tokoh seperti Fredinand
de Saussure, Sander Pierce, Micheal Riffaterre, Umbarto Eco, Jurij Lotman dan
lain-lain.
Pendekatan ini menitikberatkan soal
kebahasaan dengan penumpuan kepada mencari dan memahmi makna menerusi sistem
lambang (sign) dan perlambangan dalam teks. Asas kepada kritikan ini ialah
kepercayaan bahawa makna bahasa ditandai dengan sistem lambang dan
perlambangan.
Lambang dan perlambangan ini pula
mempunyai hubungan dengan psikologi manusia dalam sesebuah masyarakat. Makna
dalam teks dapat difahami dengan mentafsir lambang dan perlambangan yang hadir
dalam teks dan dihubungkan pula dengan penerimaan umum dalam sesebuah
masyarakat.
Semiotik mungkin bermula awal iaitu
semenjak zaman Plato lagi. Namun, untuk beberapa tempoh waktu, ianya tidak
dipentingkan terutamanya dalam era penolakan epistimologi teori ini. Walau
bagaimanapun, selepas kurun ke-17, Semiotik muncul semula dengan lebih bertenaga.
Beberapa cadangan supaya kajian secara mendalam tentang bahasa yang lebih
sistematik perlu diwujudkan telah disuarakan oleh ramai pemikir falsafah
seperti Ferdinand de Saussure dan Charles Sander Peirce.
Istilah Semiotik telah digunakan
oleh Charles Sander Peirce untuk merujuk kepada satu cabang autonomous sains.
Peirce boleh dianggap sebagai seorang pemula Semiotik. Beliau membezakan tiga
jenis lambang iaitu ikonik, indekisal dan simbolik (Terry Eagleton,1993:111).
Di antara Peirce dan Saussure ada perbezaan yang jelas dalam penekanan terhadap
lambang ini. Saussure merujuk lambang secara wewenang kepada penandanya.
Pengasas utama pendekatan Semiotik
dalam kajian kesusasteraan ialah Jurij M. Lotman yang menulis kertas kerja
dalam buku mengenai teori dan metodologi Semiotik (Mana Sikana,1990:18).
Pendekatan ini tumbuh dan berkembang di Barat pada sekitar tahun-tahun awal
kurun ke 20. Tokoh-tokoh penting di belakang Semiotik ialah Saussure, Peirce,
Lotman, Jonathan Culler, Micheal Riffaterre dan lain-lain lagi. Walau
bagaimanapun setiap tokoh ini mempunyai pandangan yan berbeza terhadap konsep
lambang dan perlambangan, meskipun asas teorinya sama iaitu memahami makna
berasaskan sistem lambang dan perlambangan. Oleh kerana itu, pengkritik yang
ingin menggunakan pendekatan ini harus terlebih dahulu memahami idea Semiotik
tokoh-tokoh ini.
2.3.
Pendekatan Mimetik
Senja Di
Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari
cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada
cerita
Tiang serta temali, kapal, perahu
tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau
terpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga
kelepek elang
Menyinggung muram, desir hari
berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak
bergerak
Dan kini, tanah, air, tidur hilang
ombak
Tiada lagi. Aku sendiri berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap
harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian
selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu
penghabisan bisa terdekap.
(Chairil Anwar, 1946)
Pada puisi “senja di pelabuhan
kecil” ini menceritakan cinta yang sudah tidak dapat diperoleh lagi. Pelukis
melukiskan gedung, rumah tua, cerita tiang dan temali, kapal, dan perahu yang
tidak bertaut. Benda-benda itu semua mengungkapkan perasaan sedih dan sepi.
Penyair merasa bahwa benda-benda di pelabuhan itu membisa kepadanya, menghembus
diri dalam mempercaya mau berpaut. Terdapat pada bait ke 1 yaitu
Ini kali tidak ada yang mencari
cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada
cerita
Tiang serta temali, kapal, perahu
tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau
terpaut
Pada bait ke-2 dalam puisi “senja di
pelabuhan kecil” perhatian penyair memfokus ke suasana pelabuhan dan tidak lagi
kepada benda-benda di pelabuhan yang beraneka ragam. Di pelabuhan itu turun
gerimis yang mempercepat kelam (menambah kesedihan penyair) dan ada “kelapak
elang” yang “menyinggung muram
2.3.1
Pandangan Tentang Pendekatan Mimetik
Pandangan pendekatan mimetik ini
adalah adanya anggapan bahwa puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran
dunia dan kehidupan manusia di semesta raya ini. Sasaran yang diteliti adalah
sejauh mana puisi merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan
adanya intelektualitas dengan karya lain. Hubungan antara kenyataan dan rekaan
dalam sastra adalah hubungan dialektis atau bertangga : mimesis tidak mungkin
tanpa kreasi, tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Takaran dan perkaitan
antara keduanya dapat berbeda menurut kebudayaannya, menurut jenis sastra.
zaman. kepribadian pengarang. dsb. Tetapi. yang satu tanpa yang lain tidak
mungkin. Dan, catatan terakhir perpaduan antara
kreasi dan mimesis tidak hanya
berlaku dan benar untuk penulis sastra. Tak kurang pentingnya untuk pembaca.
Dia pun harus sadar bahwa menyambut karya sastra mengharuskan dia untuk
memadukan aktivitas mimetik dengan kreatif-mereka. Pemberian makna pada karya
sastra berarti perjalanan bolak-balik yang tak berakhir antara dua kenyataan
dan dunia khayalan. Karya sastra yang dilepaskan dan Kenyataan kehilangan
sesuatu yang hakiki, yaitu pelibatan pembaca dalam eksistensi selaku manusia.
Pembaca sastra yang kehilangan daya imajinasi meniadakan sesuatu yang tak
kurang esensial bagi manusia, yaitu alternatif terhadap eksistensi yang ada
dengan segala keserbakekurangannya. Atau lebih sederhana : berkat seni, sastra
khususnya, manusia dapat hidup dalam perpaduan antara kenyataan dan impian,
yang kedua-duanya hakiki untuk kita sebagai manusia.
2.3.2
Pandangan beberapa pakar
• Pandangan Plato mengenai mimetik
Pandangan Plato mengenai mimesis
sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep idea-idea yang kemudian
mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni. Plato menganggap idea yang
dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak
dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh
manusia hanya dapat diketahui melalui rasio, tidak mungkin untuk dilihat atau
disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah ha yang tetap atau tidak
dapat berubah. misalnya idea mengenai bentuk segitiga. ia hanya satu tetapi
dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dan kayu dengan
jumlah lebih dan satu Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah
tetapi segitiga yang terbuat dan kayu bisa berubah (Bertnensl979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai
konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam
bukunya yang berjudul Republik bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan
sastrawan dan negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna
bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja.
Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan
sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dan
‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya
merupakan copy dan Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna
bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu
bagi Plato seorang tukang lebih mulia dan pada seniman atau penyair. Seorang
tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan
Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan
seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang
dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dan jiplakan
(Luxemberg:16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat
pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya
mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh
seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia
ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan
sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah
disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka. Plato
mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi,
bukan rasio (Teew. 1984:221).
• Pandangan
Aristoteles mengenai mimetik
Aristoteles adalah seorang pelopor
penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang
pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni
hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi. Aristoteles justru
menganggap seni sebagai sesuau yang Lisa meninggikan akal budi. Teew (1984:
221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian
terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran
dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dan nafsu rendah penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan
sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan,
melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan
sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dan kenyataan indrawi yang
diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17),
Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato)
melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dan
kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair
memilih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat
manusia yang abadi’. kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles
dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tinggi dan
tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles
terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ada’ dan
Idea-Idea Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan.
Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah.
Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah
benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles
diklasifikasikan ke dalam dua kategori.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
•
Pendekatan stilistik, sebagai kajian utama. Pendekatan
stilistik melihat tentang pengaruh puisi tradisional dalam puisi serta diksi
yang diterapkan oleh penyair. Penelitian dilakukan berpandukan teori linguistik
untuk mengetahui maksud puisi.
•
Pendekatan semiotic menitikberatkan soal kebahasaan
dengan penumpuan kepada mencari dan memahmi makna menerusi sistem lambang
(sign) dan perlambangan dalam teks. Asas kepada kritikan ini ialah kepercayaan
bahawa makna bahasa ditandai dengan sistem lambang dan perlambangan.
•
Pandangan pendekatan mimetik adalah adanya anggapan
bahwa puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia
di semesta raya ini. Sasaran yang diteliti adalah sejauh mana puisi
merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya
intelektualitas dengan karya lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Wahid, Sugiro. 1996. Kapita Selekta
Kritik Sastra. Diklat Ujung Pandang.
Waluyo Herman. 1987. Teori dan
Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar