Sabtu, 28 Oktober 2017

PENDEKATAN KAJIAN PUISI


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pengkajian sebuah puisi hendaknya para apresiator, penikmat, bahkan sebuah penyair hendaknya melakukan langkah awal seperti pendekatan-pendekatan secara teoritis, ada kalanya para pecinta sastra terutama puisi ini memahami dan memiliki panduan khususnya, guna lebih mengerti bahwa untuk melakukan sebuah pengkajian memerlukan banyak referensi-referensi umum yang membahas secara dalam berpandukan teori linguistik untuk mengetahui maksud puisi dan gaya bahasa serta suara-suara yang dikaji dalam puisi bersandarkan aliran, pendekatan kajian puisi digunakan sebagai usaha membuktikan keindahan bahasa yang universal dalam sesebuah puisi yang memperlihatkan kebolehan penyair mengolah bahasa, memperhalusi serta menerap daya kreatif dalam menyampaikan maksud bahasa yang digunakan.

B. Identifikasi Masalah
Pendekatan dan pendalaman tentang unsure-unsur dari beberapa istilah berikut ini:
1. Kajian puisi melalui pendekatan Stilistik
2. Kajian puisi melalui pendekatan Semiotik
3. Kajian puisi melalui pendekatan Mimetik
Pandangan dalam beberapa istilah di atas merupakan sebuah rujukan dan panutan dalam pengkajian puisi melalui pendekatan.

C. Pembatasan Masalah
1. Pengertian pendekatan Stilistik, pendekatan Semiotik, dan pendekatan Mimetik.
2. Keterkaitan dan fungsi dari ketiga istilah berikut terhadap kajian puisi
3. Pandangan dari beberapa ilmuan tentang istilah di atas.




















BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendekatan Kajian Puisi
1. Pendekatan Kajian Puisi
Pendekatan kajian puisi merupakan tindakan dari teori yang mempunyai andil dalam sebuah kajian puisi berpandukan teori linguistik untuk mengetahui maksud puisi dan gaya bahasa serta suara-suara yang dikaji dalam puisi bersandarkan aliran, pendekatan kajian puisi digunakan sebagai usaha membuktikan keindahan bahasa yang universal dalam sesebuah puisi yang memperlihatkan kebolehan penyair mengolah bahasa, memperhalusi serta menerap daya kreatif dalam menyampaikan maksud Bahasa yang digunakan.
Dalam hal ini juga pendekatan-pendekatan tersebut meneliti tentang sejauh mana puisi merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya intelektualitas dengan karya lain. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra adalah hubungan dialektis atau bertangga. Pandangan-pandangan pendekatan ini ada karena adanya anggapan bahwa puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia di semesta raya ini.

2. Macam-macam Pendekatan Kajian Puisi
2.1. Pendekatan Stilistik
Pendekatan stilistik, sebagai kajian utama. Pendekatan stilistik melihat tentang pengaruh puisi tradisional dalam puisi serta diksi yang diterapkan oleh penyair. Penelitian dilakukan berpandukan teori linguistik untuk mengetahui maksud puisi. Gaya bahasa dan suara-suara yang dikaji dalam puisi bersandarkan aliran ekspresionisme dalam kedua-dua kumpulan puisi. Selain itu, pengkaji juga meneliti gaya idiosinkrasi penyair tersebut dan kesesuaian bahasa serta kepenyairannya. Pendekatan stilistik digunakan sebagai usaha membuktikan keindahan bahasa yang universal dalam sesebuah puisi. Tujuan ini juga memperlihatkan kebolehan penyair mengolah bahasa, memperhalusi serta menerap daya kreatif dalam menyampaikan maksud Bahasa yang digunakan merupakan kekuatan yang di tentukan oleh kesesuaian dan ketepatan yang mendukung makna serta persoalan yang ditimbulkan. Penggunaan bahasa yang baik rnungkin rnelanggar tatabahasa untuk rnenggambarkan kehalusan perasaan dan fikiran penyair Usaha ini diharapkan dapat memperkayakan koleksi kajian terhadap puisi-puisi tanahair serta memartabatkan penyair-penyair lama dan yang baru

2.2. Pendekatan Semiotik
Pendekatan Semiotik merupakan salah satu kritikan yang penting dan popular dalam bidang bahasa dan kesusasteraan. Pendekatan ini kritik ini menggunakan prinsip-prinsip teori Semiotik sebagaiamana yang yang dikemukakan oleh beberapa orang tokoh seperti Fredinand de Saussure, Sander Pierce, Micheal Riffaterre, Umbarto Eco, Jurij Lotman dan lain-lain.
Pendekatan ini menitikberatkan soal kebahasaan dengan penumpuan kepada mencari dan memahmi makna menerusi sistem lambang (sign) dan perlambangan dalam teks. Asas kepada kritikan ini ialah kepercayaan bahawa makna bahasa ditandai dengan sistem lambang dan perlambangan.
Lambang dan perlambangan ini pula mempunyai hubungan dengan psikologi manusia dalam sesebuah masyarakat. Makna dalam teks dapat difahami dengan mentafsir lambang dan perlambangan yang hadir dalam teks dan dihubungkan pula dengan penerimaan umum dalam sesebuah masyarakat.
Semiotik mungkin bermula awal iaitu semenjak zaman Plato lagi. Namun, untuk beberapa tempoh waktu, ianya tidak dipentingkan terutamanya dalam era penolakan epistimologi teori ini. Walau bagaimanapun, selepas kurun ke-17, Semiotik muncul semula dengan lebih bertenaga. Beberapa cadangan supaya kajian secara mendalam tentang bahasa yang lebih sistematik perlu diwujudkan telah disuarakan oleh ramai pemikir falsafah seperti Ferdinand de Saussure dan Charles Sander Peirce.
Istilah Semiotik telah digunakan oleh Charles Sander Peirce untuk merujuk kepada satu cabang autonomous sains. Peirce boleh dianggap sebagai seorang pemula Semiotik. Beliau membezakan tiga jenis lambang iaitu ikonik, indekisal dan simbolik (Terry Eagleton,1993:111). Di antara Peirce dan Saussure ada perbezaan yang jelas dalam penekanan terhadap lambang ini. Saussure merujuk lambang secara wewenang kepada penandanya.
Pengasas utama pendekatan Semiotik dalam kajian kesusasteraan ialah Jurij M. Lotman yang menulis kertas kerja dalam buku mengenai teori dan metodologi Semiotik (Mana Sikana,1990:18). Pendekatan ini tumbuh dan berkembang di Barat pada sekitar tahun-tahun awal kurun ke 20. Tokoh-tokoh penting di belakang Semiotik ialah Saussure, Peirce, Lotman, Jonathan Culler, Micheal Riffaterre dan lain-lain lagi. Walau bagaimanapun setiap tokoh ini mempunyai pandangan yan berbeza terhadap konsep lambang dan perlambangan, meskipun asas teorinya sama iaitu memahami makna berasaskan sistem lambang dan perlambangan. Oleh kerana itu, pengkritik yang ingin menggunakan pendekatan ini harus terlebih dahulu memahami idea Semiotik tokoh-tokoh ini.

2.3. Pendekatan Mimetik
Senja Di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali, kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau terpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepek elang
Menyinggung muram, desir hari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini, tanah, air, tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

(Chairil Anwar, 1946)

Pada puisi “senja di pelabuhan kecil” ini menceritakan cinta yang sudah tidak dapat diperoleh lagi. Pelukis melukiskan gedung, rumah tua, cerita tiang dan temali, kapal, dan perahu yang tidak bertaut. Benda-benda itu semua mengungkapkan perasaan sedih dan sepi. Penyair merasa bahwa benda-benda di pelabuhan itu membisa kepadanya, menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut. Terdapat pada bait ke 1 yaitu

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali, kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau terpaut

Pada bait ke-2 dalam puisi “senja di pelabuhan kecil” perhatian penyair memfokus ke suasana pelabuhan dan tidak lagi kepada benda-benda di pelabuhan yang beraneka ragam. Di pelabuhan itu turun gerimis yang mempercepat kelam (menambah kesedihan penyair) dan ada “kelapak elang” yang “menyinggung muram

2.3.1 Pandangan Tentang Pendekatan Mimetik
Pandangan pendekatan mimetik ini adalah adanya anggapan bahwa puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia di semesta raya ini. Sasaran yang diteliti adalah sejauh mana puisi merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya intelektualitas dengan karya lain. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra adalah hubungan dialektis atau bertangga : mimesis tidak mungkin tanpa kreasi, tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Takaran dan perkaitan antara keduanya dapat berbeda menurut kebudayaannya, menurut jenis sastra. zaman. kepribadian pengarang. dsb. Tetapi. yang satu tanpa yang lain tidak mungkin. Dan, catatan terakhir perpaduan antara
kreasi dan mimesis tidak hanya berlaku dan benar untuk penulis sastra. Tak kurang pentingnya untuk pembaca. Dia pun harus sadar bahwa menyambut karya sastra mengharuskan dia untuk memadukan aktivitas mimetik dengan kreatif-mereka. Pemberian makna pada karya sastra berarti perjalanan bolak-balik yang tak berakhir antara dua kenyataan dan dunia khayalan. Karya sastra yang dilepaskan dan Kenyataan kehilangan sesuatu yang hakiki, yaitu pelibatan pembaca dalam eksistensi selaku manusia. Pembaca sastra yang kehilangan daya imajinasi meniadakan sesuatu yang tak kurang esensial bagi manusia, yaitu alternatif terhadap eksistensi yang ada dengan segala keserbakekurangannya. Atau lebih sederhana : berkat seni, sastra khususnya, manusia dapat hidup dalam perpaduan antara kenyataan dan impian, yang kedua-duanya hakiki untuk kita sebagai manusia.

2.3.2 Pandangan beberapa pakar
• Pandangan Plato mengenai mimetik
Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni. Plato menganggap idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio, tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah ha yang tetap atau tidak dapat berubah. misalnya idea mengenai bentuk segitiga. ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dan kayu dengan jumlah lebih dan satu Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah tetapi segitiga yang terbuat dan kayu bisa berubah (Bertnensl979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republik bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dan negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dan ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dan Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dan pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dan jiplakan (Luxemberg:16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka. Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).

• Pandangan Aristoteles mengenai mimetik
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi. Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuau yang Lisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dan nafsu rendah penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dan kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dan kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memilih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’. kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tinggi dan tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ada’ dan Idea-Idea Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah. Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan ke dalam dua kategori.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
         Pendekatan stilistik, sebagai kajian utama. Pendekatan stilistik melihat tentang pengaruh puisi tradisional dalam puisi serta diksi yang diterapkan oleh penyair. Penelitian dilakukan berpandukan teori linguistik untuk mengetahui maksud puisi.
         Pendekatan semiotic menitikberatkan soal kebahasaan dengan penumpuan kepada mencari dan memahmi makna menerusi sistem lambang (sign) dan perlambangan dalam teks. Asas kepada kritikan ini ialah kepercayaan bahawa makna bahasa ditandai dengan sistem lambang dan perlambangan.
         Pandangan pendekatan mimetik adalah adanya anggapan bahwa puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia di semesta raya ini. Sasaran yang diteliti adalah sejauh mana puisi merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya intelektualitas dengan karya lain.

DAFTAR PUSTAKA
Wahid, Sugiro. 1996. Kapita Selekta Kritik Sastra. Diklat Ujung Pandang.
Waluyo Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar