Sabtu, 28 Oktober 2017

METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak akan pernah usang. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Beragam program inovatif ikut serta memeriahakan reformasi pendidikan.
Belajar atau pembelajaran adalah  merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses untuk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Dan  pada akhirnya diharapkan akan  berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran pendidikan yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan  proses belajar  mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. Beragam  metode pembelajaran efektif dapat menjadi pilihan untuk  bisa kita persiapkan dalam sebuah kegiatan pembelajaran.
Setiap metode pembelajaran akan memiliki satu ‘rana pembelajaran’ yang paling menonjol meskipun juga mengandung rana pembelajaran lainnya. Ranah pembelajaran tersebut ada 3, yaitu: Rana kognitif atau rana perubahan pengetahuan ( P ); Rana afektif atau rana perubahan sikap-perilaku (S ) ; dan Rana psikomotorik atau rana perubahan maupun peningkatan keterampilan ( K ).
Metode bersifat prosedural artinya, penerapan pembelajaran bahasa Indonesia harus dikerjakan menurut langkah-langkah yang teratur, bertahap yakni mulai perencanaan pembelajaran, penyajian sampai dengan penilaian dan hasil belajar. 

1.2  Rumusan Masalah
Mengacu pada uraian masalah diatas maka fokus penyelesaiannya dapat dibatasi pada :
1.  Apakah yang dimaksud dengan Metode Pembelajaran?
2.  Apakah alasan yang mendasari penggunaan Metode Pembelajaran?
3.  Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi Metode Pembelajaran?
4.  Jenis-jenis Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia?

1.3  Tujuan
Berdasarkan latar belakang  yang dikaji, maka makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan kita tentang metode pembelajaran sehingga dapat menjadi acuan dalam sebuah rencana pembelajaran bagi kita sebagai calon pendidik agar dalam proses pembelajaran lebih terarah, mudah dipahami dan tepat sasaran. Lebih dari itu makalah ini juga bertujuan agar para pendidik lebih matang lagi dalam mempersiapkan suatu pelaksanaan pembelajaran dikelas maupun diluar kelas.





BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metode Pembelajaran
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya  ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat diperlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Dalam KBBI (2001: 740) metode yaitu cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu, juga didefanisikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam pembelajaran bahasa indonesia metode diartikan sebagai sisitem perencanaan pembelajaran bahasa indonesia secara menyeluruh untuk memilih, mengorganisasikan, dan meyajikan materi pelajaran bahasa indonesia secara teratur.
Metode bersifat prosedural artinya, penerapan pembelajaran bahasa Indonesia harus dikerjakan menurut langkah-langkah yang teratur, bertahap yakni mulai perencanaan pembelajaran, penyajian sampai dengan penilaian dan hasil belajar.
Jadi Metode Pembelajaran adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.
Tidak ada  satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain karena setiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan  masing -masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil dibawakan oleh guru lain. Adakalanya seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok babasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode, penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran, guru memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini bukan hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi.

2.2 Jenis-Jenis Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
1)      Metode Audiolingual
Metode audiolingual sangat mengutamakan drill (pengulangan). Metode itu muncul karena terlalu lamanya waktu yang ditempuh dalam belajar bahasa target. Padahal untuk kepentingan tertentu, perlu penguasaan bahasa dengan cepat. Dalam audiolingual yang berdasarkan pendekatan struktural itu, bahasa yang diajarkan dicurahkan pada lafal kata, dan pelatihan berkali-kali secara intensif pola-pola kalimat. Guru dapat memaksa siswa untuk mengulang sampai tanpa kesalahan.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan adalah (a) penyajian dialog atau teks pendek yang dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks yang dibaca, (b) peniruan dan penghafalan teks itu setiap kalimat secara serentak dan siswa menghafalkannya, (c) penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan, (d) dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan kelas, dan (e) pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan
2)      Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkansebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula, sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil.
Contohnya menyampaikan pesan kepada orang lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan itu dapat dipecah menjadi (a) memahami pesan, (b) mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan keraguan, (c) mengajukan pertanyaan untuk memperoleh lebih banyak informasi, (d) membuat catatan, (e) menyusun catatan secara logis, dan (f) menyampaikan pesan secara lisan. Dengan begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif.
3)      Metode Produktif
Metode produktif diarahkan pada berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menuangkan gagasannya. Dengan menggunakan metode produktif diharapkan siswa dapat menuangkan gagasan yang terdapat dalam pikirannya ke dalam ketrampilan berbicara dan menulis secara runtun. Semua gagasan yang  disampaikan dengan menggunakan bahasa yang komunikatif. Yang dimaksud dengan komunikatif di sini adalah adanya respon dari lawan bicara. Bila kita berbicara lawan bicara kita adalah pendengar, bila kita menulis lawan bicara kita adalah pembaca.
4)      Metode Langsung
Metode langsung berasumsi bahwa belajar bahasa yang baik adalah belajar yang langsung menggunakan bahasa secara intensif dalam komunikasi. Tujuan metode langsung adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara alamiah seperti penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat.
Siswa diberi latihan-latihan untuk mengasosiasikan kalimat dengan artinya melalui demonstrasi, peragaan, gerakan, serta mimik secara langsung.
5)      Metode Partisipatori
Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator.
Dalam metode partisipatori siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.
6)      Metode Membaca
Metode membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan yang diperlukan dalam belajar siswa.
Berikut langkah-langkah metode membaca:
a)        pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal ini diberikan dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat
b)        Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca dengan diam selama 10-15 menit (untuk mempercepat waktu, bacaan dapat diberikan sehari sebelumnya)
c)        Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab
d)       Pembicaraan tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika dipandang perlu oleh guru
e)        Pembicaraan kosakata yang relevan
f)         Pemberian tugas seperti mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat denah, skema, diagram, ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan dengan isi bacaan
7)      Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, konkret, dan konseptual.
Tema yang telah ditentukan haruslah diolah dengan perkembangan lingkungan siswa yang terjadi saat ini. Begitu pula isi tema disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang  di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara konkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Konsep-konsep dasar tidak terlepas. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
8)      Metode Kuantum
Quantum Learning (QL) merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode Freire dan Lozanov. QL mengutamakan pecepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL bahwa proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu dapat berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, serta sejauh mana guru menggubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.
9)      Metode Diskusi
Diskusi adalah proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling bertukar ide tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah,menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau pemahaman, atau membuat suatu keputusan. Apabila proses diskusi melibatkan seluruh anggota kelas, pembelajaran dapat  terjadi secara langsung dan bersifat student centered (berpisat pada siswa) Dikatakan pembelajaran langsung karena guru menentukan tujuan yang harus dicapai melalui diskusi, mengontrol aktivitas siswa serta  menentukan fokus dan keberhasilan pembelajaran. Dikatakan berpusat kepada siswa karena sebagian besar input pembelajaran berasal dari siswa, mereka secara aktif aktif dan meningkatkan belajar, serta mereka dapat menemukan hasil diskusi mereka.
10)  Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group Work)
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kecil merupakan metode yang banyak dianjurkan oleh para pendidik. Metode ini dapat dilakukan untuk mengajarkan materi-materi khusus. Kerja kelompok kecil merupakan metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahunan sendiri melalui bekerja secara bersama-sama. Tugas guru hanyalah memonitor apa yang dikerjakan siswa. Yang ingin diperolah melalui kerja kelompok adalah kemampuan interaksi sosial, atau kemampuan akademik atau mungkin juga keduanya
11)  Metode Alamiah
Metode ini banyak memiliki nama, yaitu metode murni, metode natural atau “customary method”. Metode ini memiliki prinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuai dengan kebiasaan belajar berbahasa yang sesungguhnya sebagaimana yang dilalui oleh anak-anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses alamiah inilah yang harus dijadikan landasan dalam setiap langkah yang harus ditempuh dalam pengajaran bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia.
Seperti Anda ketahui proses belajar bahasa anak-anak dimulai dengan mendengar, kemudian berbicara, kemudian membaca dan akhirnya menulis atau mengarang. Jadi pada awal pelajaran, gurulah yang banyak berbicara/bercerita dalam rangka memperkenalkan bunyi-bunyi, kosa kata dan struktur kalimat sederhana. Setelah mereka dapat menyimak dengan baik, kemudiananak-anak diajak berbicara dan selanjutnya mulai diperkenalkan dengan membaca dan menulis.
12)  Metode Terjemahan
Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan untuk pengajaran bahasa asing, termasuk dalam hal ini Bahasa Indonesia yang pada umumnya merupakan bahasa kedua setelah penggunaan bahasa ibu yakni bahasa daerah. Prinsip utama pembelajarannya adalah bahwa penguasaan bahasa asing dapat dicapai dengan cara latihan terjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu murid atau ke dalam bahasa yang dikuasainya. Misal: latihan terjemahan dari Bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah atau dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Kelebihan metode ini dalam hal kepraktisan dalam pelaksanaannya dan dalam hal penguasaan kosakata dan tatabahasa dari bahasa yang baru dipelajari siswa.
13)  Metode Pembatasan Bahasa
Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan. Pembatasan itu dalam hal kekerapan atau penggunaan kosakata dan urutan penyajiannya. Kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya di masyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa. Pola-pola kalimat, perbendaharaan kata, dan latihan lisan maupun tulisan dikontrol dengan baik oleh guru.

2.3 Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
1.      Persamaan dan perbadaan antar sistem bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua yang mereka pelajari.
2.      Usia siswa pada saat mereka belajar bahasa indonesia
3.      Latar belakang sosial budaya siswa
4.      Pengalaman, pengetahuan dan keterampilan berbahasa siswa dalam bahasa yang dipelajarinya yang sudah mereka punyai.
5.      Pengetahuan dan keterampilan berbahasa guru dalam bahasa yang akan dipelajarinya:
a.              Guru bahasa menguasai bahan ajar
b.             Guru bahasa mampu mengelola program-program belajar mengajar bahasa indonesia
6.        Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipelajari siswa dalam masyarakat tempat dimana mereka berada.
7.        Tujuan pembelajaran yang di inginkan
8.        Alokasi waktu yang tersedia untuk kegiatan pembelajaran
9.        Metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa

2.4  Alasan Menentukan Metode
Metode pembelajaran adalah bagian utuh (terpadu, integral) dari proses pendidikan pengajaran. Metode ialah cara guru mejelaskan suatu pokok bahasan ( tema, pokok masalah) sebagai bagian kurikulum dalam upaya mencapai sasaran tujuan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dan kerjasama guru dan siswa dalam mencapai sasaran dan tujuan pembelajaran  melaui cara atau metode, yang  pada hakekatnya ialah jalan mencapai sasaran dan tujuan pembelajaran. Jadi, alasan atau nalar guru memlilih dan menetapkan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran adalah :
1.             Metode ini sesuai dengan pokok bahasan, dalam rangka lebih menjadi mencapai sasaran dan tujuan pembelajaran.
2.             Metode ini menjadi kegiatan siswa dalam belajar dan meningkatkan motivasi atau semangat belajar.
3.             Metode ini memperjelas dasar, kerangka, isi dan tujuan dari pokok bahasan sehingga pemahaman siswa makin jelas.
4.             Metode dipilih guru dengan azas diatas berdasarkan pertimbangan praktis, rasional dikuatkan oleh kiat dan pengalaman guru mengajar.
5.             Metode yang berdaya guna, belum tentu tunggal, jadi suatu metode dapat digunakan secara kombinasi ( sintesis terpadu ) dan dilengkapi dengan media tertentu, bahkan multi-media. Dasar pertimbangan ialah sasaran dan tujuan pembelajaran.

BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
Dalam KBBI (2001: 740) metode yaitu cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu, juga didefanisikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam pembelajaran bahasa indonesia metode diartikan sebagai sisitem perencanaan pembelajaran bahasa indonesia secara menyeluruh untuk memilih, mengorganisasikan, dan meyajikan materi pelajaran bahasa indonesia secara teratur.
Metode bersifat prosedural artinya, penerapan pembelajaran bahasa Indonesia harus dikerjakan menurut langkah-langkah yang teratur, bertahap yakni mulai perencanaan pembelajaran, penyajian sampai dengan penilaian dan hasil belajar.
Beberapa metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu, Metode Audiolingual, Metode Komunikatif, Metode Produktif, Metode Langsung, Metode Partisipatori, Metode Membaca, Metode Tematik, Metode Kuantum, Metode Diskusi, Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group Work), Metode Alamiah, Metode Terjemahan, Metode Pembatasan Bahasa.

3.2     Saran
Adapun saran kami adalah selayaknya guru bisa menentukan metode sebelum pembalajaran bahasa Indonesia, karena dengan begitu guru bisa mengevaluasi hasil dari pembelajaran tersebut. Karena metode merupakan serangkaian proses dari awal sampai akhir pembelajaran. Karena itulah metode dalam sebuah pembelajaran sangat penting bagi seorang guru.
DAFTAR PUSTAKA

Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud
Darjowidjojo, Soenjono. 1994. Butir-butir Renungan Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Salatiga: Univeristas Kristen Satya Wacana
Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI
Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Moeleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya.
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Salamun, M. 2002. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren. Tesis.. Tidak diterbitkan
Sholhah, Anik. 2000. Pertanyaan Tutor dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di UM. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud

METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Dosen Pengampu :
Dr. Wahono, M.Pd.


Disusun Oleh





 









PROGRAM PASCASARJANA
STKIP PGRI BANDAR LAMPUNG
TAHUN AKADEMIK
2017/2018

 


KATA PENGANTAR

Dengan puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: “Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia”.
Saya menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan serta berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini saya menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Terutama kepada dosen pengampu Bapak Dr. Wahono, M.Pd
Makalah ini memang masih  jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, saya akan menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini, dan saya berharap makalah ini dapat berguna bagi yang membacanya.

Bandar Lampung,    Oktober 2017


Penyusun


MASALAH DALAM PUISI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya-karya agung dalam banyak kesusastraan dunia selalu memberi pencerahan. Ia mengajak kita untuk senantiasa bersikap kritis dalam menanggapi dunia sekitar kita atau merangsang pembacanya agar tumbuh kepekaan emosional ketika hakikat keberadaan manusia dilecehkan. Di sebalik itu, ia juga menyodorkan kenikmatan estetik. Meski ia berbicara tentang manusia tertentu dengan identitas dan warna lokalnya yang khas, sangat mungkin ia berlaku universal mengingat masalahnya manyangkut keberadaan manusia dan hakikat kemanusiaan. Puisi, mengingat bentuknya yang lebih padat dan ekspresif, konon paling mewakili kegelisahan emosional. Konon juga, manusia sering kali merasa lebih mudah mengungkap-kan kegalauan perasaan dan pikirannya lewat puisi daripada ragam sastra yang lain. Meski-pun persoalan itu masih dapat diperdebatkan, setidak-tidaknya fakta menunjukkan bahwa puisi lebih banyak ditulis orang daripada cerpen, novel atau drama. Lagu dolanan anak-anak, senandung timang-timang para ibu dalam meninabobokan bayinya, panggilan kepada angin ketika anak-anak bermain layang-layang, atau berbalas pantun para orang tua dalam upacara pelamaran, dan entah apalagi, adalah pola puisi yang diungkapkan secara spontan. Meskipun hampir setiap orang dapat membuat puisi, niscaya tidak semua orang dapat menjadi penyair. Lalu, bagaimanakah seseorang dapat dikatakan sebagai penyair? Pertama-tama tentu saja predikat itu datang lantaran karya-karyanya dipandang berkualitas dan bukan sekadar menulis puisi. Kuantitas bukanlah yang menjadi ukurannya. Oleh sebab itu, banyak-tidaknya seseorang menulis puisi, belum menjadi jaminan untuk menyebutnya sebagai seorang penyair. Kepenyairan seseorang semata-mata ditentukan oleh kualitas kar-yanya yang mampu memberi pencerahan kepada pembacanya. *** Puisi yang baik lazimnya menawarkan serangkaian makna kepada pembacanya. Untuk menangkap rangkaian makna itu, tentu saja pembaca perlu masuk ke dalamnya dan mencoba memberi penafsiran terhadapnya. Langkah dasar yang dapat dilakukan untuk pe-mahaman itu adalah ikhtiar untuk mencari tahu makna teks. Sebagai sebuah teks, puisi menyodorkan makna eksplisit dan implisit. Makna eksplisit dapat kita tarik dari perwu-judan teks itu sendiri; pilihan katanya, rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata atau diksi menyodorkan kekayaan nuansa makna; rangkaian sintaksis berhu-bungan dengan maksud yang hendak disampaikan, logika yang digunakan berkaitan de-ngan pemikiran atau ekspresi yang ditawarkan; makna semantis berkaitan dengan keda-laman makna setiap kata dan acuan-acuan yang disarankannya. Adapun makna implisit berkaitan dengan interpretasi dan makna yang menyertai di belakang puisi bersangkutan. Apapun jenis puisi yang menjadi objek apresiasi atau kajian kritis terhadapnya, langkah-langkah sebagai usaha pemahaman itu sangat mungkin dapat membantu pembaca menyelam ke dalam dunia puisi yang bersangkutan dan kemudian muncul kembali dengan membawa pemahaman tekstual dan kontekstualnya. Pemahaman tekstual atau makna teks tersurat dapat dilakukan lewat dua tahapan. Sebelum kita memasuki langkah-langkah apre-siasi puisi, perlu kiranya kita memahami dahulu pengertian apresiasi itu sendiri, agar tidak terjadi pencampuradukan antara apresiasi puisi dan pengetahuan tentang puisi. *** Apresiasi puisi atau apresiasi sastra pada umumnya merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap karya sastra (puisi). Sebagai penghargaan, maka langkah pertama yang mesti dilakukan adalah pembacaan teks sastra (puisi) itu sendiri. Jika apresiasi dilaku-kan dengan cara pembacaan penggalan-penggalan teks, maka itu bukanlah apresiasi. Seba-gai pelajaran sastra atau sebagai usaha menyampaikan pengetahuan tentang sastra, hal itu boleh saja dilakukan. Tetapi sebagai sebuah apresiasi, tindakan itu justru keliru dan meren-dahkan kekayaan nilai-nilai yang terkandung di dalam karya yang bersangkutan. Masalah-nya, bagaimana mungkin penghargaan terhadap karya sastra (puisi) dapat dilakukan jika membaca karyanya itu sendiri secara utuh tidak dilakukan. Dengan demikian, langkah pa-ling awal yang mesti dilakukan dalam apresiasi adalah pembacaan teks sastra.














BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Plagiat
Plagiat adalah suatu tindakan meniru, menjiplak, atau mencuri karya milik orang lain dengan maksud untuk dijadikan hasil karya milik sendiri.sedangkan karya ilmiah (bahasa Inggris: scientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Dan pelaku tindakan plagiat disebut plagiator. (http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa plagiat pada karya ilmiah merupakan tindakan meniru, menjiplak, atau mencuri karya milik orang lain yang bersifat ilmiah atau keilmuan misalnya makalah, laporan praktikum, skripsi, tesis, dll.
Ada dua macam tindakan plagiat yang dijumpai dalam karya tulis ilmiah, yaitu plagiarisme tidak sengaja (inadvertent plagiarism) dan plagiarisme yang disengaja (deliberate plagiarism). Plagiarisme tidak disengaja adalah plagiarisme yang terjadi karena ketidaktahuan (ignorancy) penulis terhadap perkembangan ilmu yang menjadi bidang spesialisasinya. Plagiarisme tidak disengaja dapat pula terjadi akibat ketidakpahaman penulis dalam melakukan pengutipan dan penulisan sumber kepustakaan. Sementara itu, plagiariasme yang disengaja adalah perbuatan yang secara sengaja menjiplak karya ilmiah orang lain untuk dipublikasikan sebagai hasil karya sendiri. Baik tidak disengaja maupun disengaja, suatu plagiat tetaplah dipandang dan diperlakukan sebagai plagiat, apapun alasan yang dikemukakan oleh pelakunya. (Prof. Dr. Ir. H. Zulkarnain, M.Hort.Sc: Menghindari Perangkap Plagiarisme dalam Menghasilkan Karya Tulis Ilmiah.)
Bagi kalangan akademisi (mahasiswa) banyak yang tidak menyadari bahwa beberapa tindakan searching yang kemudian dilanjutkan dengan copy paste yang bertujuan untuk penulisan karya ilmiah merupakan contoh tindakan plagiat. Beberapa tindakan yang bisa dikatakan sebagai plagiat antara lain sebagai berikut:
1.
Copy paste. Copy paste merupakan tindakan penyalinan hasil karya milik orang lain yang diakukan secara searching dunia maya.
2.
Mengubah nama pengarang dari suatu karya orang lain.
3.
Menyalin persis hasil karya orang lain.
4.
Menggunakan pendapat atau ide orang lain tanpa mencantumkan sumber aslinya.
5.
Menuliskan hasil penelitian orang lain dengan menggunakan kalimat sendiri tanpa mencantumkan sumber atau nama pemilik karya/hasil penelitian tersebut.
6.
Membeli hasil karya orang lain yang kemudian disebarluaskan kepada publik atas nama pembeli arya ilmiah.
7.
Mengubah hasil karya orang lain berupa tulisan tanpa seizin dari pemilik asli.

2.2 Contoh Kasus Plagiat
Beberapa tokoh Indonesia yang pernah diduga menjadi plagiat diantaranya adalah:
a. Chairil Anwar
 Penyair ini pernah dituduh telah melakukan penjiplakan suatu karya tulis. Tuduhan tersebut dikeluarkan oleh Hans Bague Jassin melalui tulisannya yang dimuat di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat yang membahas tentang puisi Kerawang-Bekasi. Adapun Jassin (bergelar  Paus  Sastra  Indonesia) itu membandingkan puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeishpenyair Amerika Serikat.

b. Siti Fadilah Supari
Contoh lain adalah kasus yang dialami oleh Siti Fadilah Supari. Dirinya pernah mendapat tuduhan sebagai seorang plagiat. Tulisan Fadilah yang berjudul Cholesterol-Lowering Effect of Soluble Fibre as an adjunct to Low Calories Indonesian Diet in Patients with Hypercholesterolamia  ketika  seminar  di  Pusat Jantung Nasional  Harapan  Kita, Jakarta  pada  tanggal  29  Oktober  2002.  Apa yang dia tulis mirip dengan karya James W. Anderson berjudul Long-term Cholesterol Lowering Effect of Psyllium as An Adjunct to Diet Therapy in The Treatment of Hypercholesterolamia, yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition. (http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiat).

c. Anggito Abimanyu
Sindonews.com (Senin,  17 Februari 2014  −  16:00 WIB). Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Anggito Abimanyu telah menyampaikan permohonan pengunduran dirinya sebagai dosen UGM. Permohonan tersebut disampaikan Anggito terkait tuduhan plagiat tulisan artikel disalah satu koran nasional.
Anggito dituduh menjiplak karya tulis Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan. Tulisan atas nama Anggito tersebut tayang pada 10 Februari 2014 lalu dengan judul Gagasan Asuransi Bencana. Secara resmi pada wartawan di UC UGM Senin (17/2), Anggito mengaku telah melakukan kesalahan pengutipan referensi dalam sebuah folder di komputer pribadinya.
2.1.1 Penyitiran kata-kata dan gagasan-gagasan yang dipinjam
Terkecuali pengetahuan umum atau yang sudah dianggap umum, yakni yang dapat ditemukan diberbagai sumber bacaan lain, semua informasi yang dipinjam harus diberikan referensi yang benar. Informasi itu tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga gagasan-gagasan dalam bentuk, antara lain: statistik, angka-angka, tabel, diagram, gambar, ikon, simbol, pola dan tanda. Di lain pihak, pengetahuan umum meliputi, antara lain: pengetahuan yang sudah diketahui masyarakat atau pengetahuan yang lazim dalam bidang ilmu tertentu. Sebagai contoh, bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan; bahwa matahari terbit di sebelah timur; bahwa Sigmund Freud adalah tokoh psikoanalisis atau bahwa perubahan iklim merupakan isu penting dewasa ini.

2.1.2 Penyertaan tanda kutip untuk mengapit kata-kata yang dipinjam
Bila menulis menggunakan kata-kata yang persis dari penulis lain, ia harus menggunakan tanda kutip untuk mengapit kata-kata yang dipinjamnya dan membuat referensi-dalam-teks, serta memberikan nomor halaman dari tempat kata-kata itu diambil.

2.2 Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir
Pengadilan Puisi Gejala Sastra Pengadilan Puisi, tepatnya "Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir", merupakan nama sebuah acara yang diselenggarakan Yayasan Arena. Acara ini diadakan di Aula Universitas Parahyangan, Bandung, 8 September 1974 dan diikuti oleh sejumlah pengarang Indonesia. Dalam acara ini, Slamet Kirnanto—yang bertindak sebagai "Jaksa"—membacakan "tuntutan"-nya yang berjudul "Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-Akhir Ini Tidak Sehat, Tidak Jelas dan Brengsek!" Tuntutan Darmanto Jt dan tuntutan Slamet Kirnanto secara tersirat dan tersurat memang terasa di dalam ketidakpuasan terhadap kehidupan puisi Indonesia pada saat itu. Ketidakpuasan itu, antara lain, menyangkut:
(1) sistem penilaian terhadap puisi Indonesia,
(2) kritikus sastra Indonesia,
(3) media yang memuat karya sastra Indonesia, dan
(4) beberapa penyair Indonesia yang dianggap "mapan".
Itulah sebabnya, mereka yang banyak disebut-sebut dalam "Pengadilan Puisi" di Bandung (karena dianggap "bertanggung jawab" terhadap kehidupan puisi Indonesia) sengaja diundang untuk berbicara dalam "Jawaban Atas Pengadilan Puisi" yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Teater Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, 21 September 1974; sebuah acara yang dapat dianggap sebagai "kelanjutan" atau "sambungan" Pengadilan Puisi di Bandung. Dalam acara "Jawaban Atas Pengadilan Puisi" itu, H.B. Jassin, M.S. Hutagalung, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono "menjawab" tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Slamet Kirnanto kepada mereka. Taufiq Ismail dalam "Catatan dari Bandung dan Jakarta: Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir dan Jawaban Terhadap Itu" mengatakan "… penyelenggara Djen Amar dan Sanento Yuliman menjelaskan kepada saya apa yang dimaksud dengan Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir itu. Rupanya kawan-kawan di Bandung ini ingin mencari suatu bentuk lain dalam membicarakan kesusastraan, dalam hal ini puisi. Bentuk seminar, simposium, dan diskusi panel dianggap menjemukan sehingga dicari suatu bentuk yang tidak menjemukan, lucu, tapi juga bersungguh-sungguh. Konon menurut gagasan Darmanto, bentuk pengadilan bisa memenuhi persyaratan. Demikianlah Puisi Indonesia Mutakhir jadi terdakwa yang diadili; ada jaksa yang mendakwa, ada pembela yang menangkis dakwaan, ada orang-orang yang memberikan kesaksian dan tentu saja kemudian ada hakim yang memutuskan (Eneste, 1986). Slamet Kirnanto dalam "Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-Akhir ini Tidak Sehat, Tidak Jelas dan Brengsek!" menyatakan "menimbang perlunya menghembuskan lagi udara segar dalam kehidupan sastra puisi kita, dan menuntut yang adil dan wajar dari kondisi sastra kita, membersihkan semak dan belukar yang menghambat langkah dari kecenderungan yang sedang tumbuh sekarang; berdasarkan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Puisi), seperti terjelma dalam pasal demi pasalnya yang merupakan pencerminan dari aturan permainan sehat; dengan ini kami sangat bertindak selaku Jaksa Penuntut Umum dalam "Peradilan Puisi Kontemporer", mengajukan tuntutan sebagai berikut Para kritikus yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir, khususnya H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung harus "dipensiunkan" dari peranan yang pernah mereka miliki. Para editor majalah sastra, khususnya Horison (Sapardi Djoko Damono) dicutibesarkan. Para penyair established (mapan): Subagio, Rendra, Goenawan, dan sebangsanya (dan lain-lain) dilarang menulis puisi dan epigon-epigonnya harus dikenakan hukum pembuangan. Dan bagi inkarnasinya dibuang ke pulau yang paling terpencil. Horison dan Budaya Jaya harus dicabut "SIT"-nya dan yang terbit selama ini dinyatakan tidak berlaku. Dan dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum sebab akan mengisruhkan perkembangan sastra puisi yang kita harapkan sehat dan wajar (Eneste, 1986)." H.B. Jassin dalam "Beberapa Catatan Bertalian dengan Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir" menyatakan bahwa "menurut programa, susunan personalia pengadilan adalah sebagai berikut Hakim Ketua : Sanento Yuliman Hakim Anggota : Darmanto Jt Jaksa Penuntut Umum : Slamet Kirnanto Tim Pembela : Taufiq Ismail Sapardi Djoko Damono (absen) (Handrawan Nadesul) Terdakwa : Puisi Indonesia Mutakhir Para Saksi: Saksi yang meringankan: Saini K.M. (Bandung) Adri Darmadji (Jakarta) Wing Kardjo (Bandung) Abdul Hadi W.M. (Bandung) Umbu Landu Paranggi (Yogya, absen) Yudhistira Ardi Noegraha (Jakarta) Saksi yang memberatkan: Sutardji Calzoum Bachri (Bandung) Sides Sudyarto DS (Jakarta) Bunyi rumusan dakwaan sebagaimana yang dapat ditangkap dari laporan wartawan Kompas ialah, bahwa: "… situasi perkembangan sastra, khususnya puisi di Indonesia tidak menentu. Sudah tidak sehat sama sekali. Gejala-gejala kebarat-baratan yang berasal dari sastrawan intelektualistis Sutan Takdir Alisjahbana masih terus berjalan, sehingga sastra Indoensia tidak menemukan kekuatannya pada kepribadiannya sendiri, melainkan hanya epigonisme dari Barat saja". Selanjutnya, dikatakan pula bahwa biang keladi keadaan yang tidak sehat ini adalah Goenawan Mohamad yang meneruskan epigonisme dari Barat, disempurnakan oleh Sapardi Djoko Damono yang dibuntuti oleh Abdul Hadi W.M. Selain itu, majalah Horison dan Budaya Jaya juga dianggap berdosa karena menjadi penyebar dan juru bicara epigonisme yang dianggap berbahaya itu sehingga harus dicabut izin terbitnya. Akhirnya, surat tuduhan itu menyebut para kritikus, antara lain H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, sebagai orang-orang yang berdosa "selalu menghembus-hembuskan angin sastra yang tidak sehat serta tidak sanggup melihat gejala dan kenyataan adanya aliran baru yang lebih Indonesia" sehingga mereka harus segera dipensiunkan (Eneste, 1986). M.S. Hutagalung dalam "Puisi Kita Dewasa Ini: Jawaban Saya Terhadap Slamet Kirnanto" menyatakan bahwa disenangi atau tidak disenangi pengarang, FSUI harus tetap mengutarakan pendapat-pendapatnya terhadap karya sastra. Untuk mengulangi hal-hal yang telah dikemukakan, diambil beberapa kesimpulan: Pandangan-pandangan Slamet Kirnanto adalah pandangan-pandangan yang tidak sehat, bau apak yang cukup berbahaya sebenarnya bagi generasi muda, terutama karena ia menganggap dirinya sebagai pembela seniman-seniman muda itu. Memforsir suatu pengakuan dengan teriakan keras dan tidak demokratis adalah tidak sehat bagi perkembangan kesusastraaan kita khususnya, kebudayaan kita umumnya. Saya berpendapat bahwa sebuah pernyataan atau statement tidak ada harganya tanpa disertai bukti-bukti dan argumentasi. Bahwa perkembangan puisi kita brengsek dan ini adalah akibat kesalahan para kritikus, sebenarnya tidak benar. Sudut pandang Kirnantolah yang brengsek. Dan saya tidak sependapat pada pandangan Kirnanto bahwa seakan-akan perkembangan sastra hanya ditentukan oleh beberapa orang kritikus. Untuk menilai seseorang, lebih baik langsung meneliti karyanya sebagaimana adanya tanpa mengharapkan yang diteliti sebagai ini dan itu. Kalau menilai H.B. Jassin atau M.S. Hutagalung, langsunglah menilai karyanya tanpa menghubungkan harapan agar mereka sebagai "pengarah" sastra Indonesia. Tuntutan itu menjadi tuntutan yang tidak wajar untuk mereka (Eneste, 1986)". Sapardi Djoko Damono dalam Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan mengatakan "Harap diketahui bahwa saya diundang menghadiri "Pengadilan Puisi" yang diselenggarakan di Bandung tanggal 8 September 1974. Sayang sekali saya tidak bisa hadir karena alasan kesehatan. Pada tahun 1970, Darmanto Jt. pernah menyodorkan gagasan mengadakan kegiatan semacam itu di Semarang, tetapi karena beberapa alasan acara yang dimaksudkan untuk badutan itu tak bisa dilaksanakan pada saatnya. Baru tahun ini ada beberapa teman yang bersedia melaksanakan gagasan asli Darmanto Jt. itu di Bandung (1983)". Lebih lanjut, Sapardi mengatakan bahwa "berita di Koran tentang peristiwa di Bandung itu bisa menimbulkan kesan seolah-olah sekelompok penyair muda sedang memberontak terhadap nilai-nilai yang ditegakkan oleh penyair yang sudah established, yang biasanya lebih tua. Ternyata tidak demikian halnya. Darmanto Jt., Slamet Kirnanto, Goenawan Mohamd, Sutardji Calzoum Bachri, Taufif Ismail dan beberapa nama lain yang disebut-sebut adalah sebaya. Dari segi umur mereka memiliki kemungkinan yang sama, namun karena ada yang suka belajar dan ada yang hanya suka mengeluh maka nilai puisi yang mereka tulis berbeda. Dan peristiwa itu jelas bukan merupakan pemberontakan kaum muda terhadap yang tua karena ternyata si "penuntut" adalah Slamet Kirnanto yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Abdul Hadi W.M., penyair yang dijadikan bahan ejekan dan tuduhan, yang jauh lebih berbakat dan telah menerbitkan puisi yang jauh lebih baik kualitasnya dari, misalnya Slamet Kirnanto sendiri. Lebih kocak lagi karena Slamet Kirnanto telah mendakwa Abdul Hadi sebagai epigon; saya kira seharusnya mereka bertukar peran saja (1983)". Sapardi melanjutkan bahwa "tuntutan Slamet Kirnanto itu ditulis dengan bahasa yang buruk, tidak berisi hal-hal baru, dan tidak kocak (kecuali, barangkali, empat buah pokok tuntutannya yang di bagian akhir tulisan itu). Barangkali kita harus menghargai Slamet Kirnanto karena "keberanian"-nya tampil di Bandung tempo hari, namun saya berpendapat bahwa ia adalah tokoh yang terlalu "serius" untuk pertemuan serupa itu. Suasana pasti bisa lebih kocak seandainya Darmanto Jt. yang bertindak sebagai "penuntut umum" (1983)"

2.3 Monotone Dalam Puisi Indonesia Mutakhir
Kencenderungan melakukan penyimpangan tema dan bahasa nampaknya begitu kuat pada penyair-penyair mutakhir. Tema puisi yang biasanya dikaitkan dengan hal yang sublime, yang halus, yang luhur, yang menghindari kata tabu, akhir-akhir ini melepaskan ikatan itu. Banyak penyimpangan yang dilakukan penyair sebagai ujud ekspresi kreativitasnya. Bentuk tipografi konfensional juga banyak ditinggalkan, sekalipun masih banyak juga penyair yang mempertahankan tipografi konfensional.
Dami N. Toda mengibaratkan Chairil Anwar sebagai mata kanan dan Sutadji Calzoum Bachri sebagai mata kiri. Suatu paduan yang tidak dapat dipidahkan dan bersifat saling mengisi.
Ke-9 penyimpangan bahasa oleh Geoffrey Leech itu adalah:
1.      Penyimpangan lekslikal, maksudnya penyimpangan makna kata
2.      Penyimpangan semantik, artinya kebanyakan puisi menggunakan bahasa yangbermakna konotatif.
3.      Penyimpangan fonologis, artinya sering digunakan kata-kata dengan bunyi yang menyimpang untuk memperoleh efek kepaduan bunyi
4.       Penyimpangan morfologis, artinya penyimpangan dalam bentukan kata (proses morfologis).
5.      Penyimpangan sintaksis, artinya penyimpangan dalam pembentukan kalimat secara konvensional.
6.      Penyimpangan dialek, artinya pengambilan dialek asal penyair sehingga kata-kata bahasa daerah muncul.
7.      Penyimpangan register, artinya penggunaan ragam bahasa tertentu untuk ungapan perasaan khas.
8.      Penyimpangan histories, artinya pemakaian kata-kata yang sudah tidak umum dipakai dalam bahasa modern.
9.      Penyimpangan grafologis, artinya secara sengaja menyimpang dari sruktur linguisticIndonesia yang baku.

1. Mantra dan Puisi Konkret ( Sutardji Calzoum Bachri)
Puisi-puisi Sutardji dihidupkannya kembali mantra Melayu dalam puisi Indonesia modern.
a.       Mantra berarti menggunakan kata0kata atau bunyi-bunyi yang berulang untuk menciptakan daya magis, susunan kata yang mempunyai rama atau ritma dengan pemilihan kata-kata yang bersifat sublime sehingga memiliki kekuatan gaib.Mantra biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang. “ Kredo Puisi” ( Calzoum Bachri)
Mantra merupakan wujud pengucapan jiwanya yang pas. Bebas bereksperimen dengan kata-kata yang secara umum tidak bermakna namun mengandung rima dan ritma serta kekuatan gaib.
Contoh:
Lima percik mawar/ tujuh sayap merpati/ sesayat langit perih/ dicabik puncak gunung/ sebelas duri sepi/ dalam dupa rupa/ tiga menyan luka/ mengasapi duka. Puah!/ kau jadi Kau!/ Kasihku. ( Huss Puss ; 20)
b.      Puisi Kongkret, yakni puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tatawajah yang disusun mirip dengan gambar. Ia ingin memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dan baris serta bait yang menyerupai gambar seperti: segitiga, huruf Z, kerucut, falat, belah ketupat, segi empat, dan sebagainya.Sutardjo Calzoum Bachri banyak melakukan penyimpanan bahasa. Pergantian baris puisi mestinya harus diakhiri oleh satu kata penuh dan tidak oleh satu suku kata sebab antara baris satu dengan baris berikutnya sudah membentuk kesatuan sintatik yang berbeda.
Contoh:
Ngiau! Kucing dalam darah ia menderas
Lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber-
Gegas lewat dalam aortaku dalam rimba
Darahku dia besar dia bukan harimau bu-
Kan singa bukan hyena bukan loepar di-
Macam kucing bukan kucing tapi kucing
Ngiau dia lapar dia menambah rimba af-
Rikaku dengan cakarnya dengan amuknya
(Huss Puss;56)
c.       Pemutar balikkan makna, logika, dan kata-kata
Sang penyair mampu memutarbalikkan makna kata, logika, dan juga pengulangan kata-kata itu.Pemutarbalikkan dan pembuatan variasi kata-kata itu begitu cerdas dan bermakna. Permainan tanda baca begitu bervariasi dan bermakan dan bukan sekedar untuk membantu bentuk grafisnya sehingga tercipta gambar puisi konkret yang dikehendaki, namun mewakili makna tertentu ( seperti Tuhan dikaitkan dengan kucing, Yesus dikaitan dengan roti) tadinya terkesan sebagai ungkapan kurang ajar ( tidak logika). Namun setelah dipikirkan hal itu mewakili kegemasan dalam mencari rahasia Tuhan. Kata-kata yang dibalik dapat ditafsirkan sebagai usaha penyair mengatakan makna sebaliknya, namun dapat juga berarti permainan kata-kata untuk menunjukkan kegelisahan dan kesepiannya.



2. Penolakkan Tabu Bahasa ( Rendra, Linus, Rahardi, dan Darmanto)
Tabuh bahasa menunjukkan longgarnya nilai moral dalam diri penyair. Hal ini oleh penyair ditafsirkan sudah dalam taraf sangat mendongkol memberi kritik atau mencari rahasia tuhan.
Contoh Sutarji dalam O, Amuk, Kapak:
Karena kamar sudah bertelanjang berdiri/ beribu mat dari dinding-dinding ini ketawa lebar/ sia-sia-sia saja/ kau dan aku/ meski kulipat kau dalam dadaku/ meski kaulipas aku dalam pahamu.
(“ Malam Pengantin”, hal 50)
Linus mengunakan bahasa Jawa yang kuat dalam mengunggkapkan gelora perasaannya.
Contoh:
Kurang percaya dengan kejadian semalam/ sekali lagi ingin saya yakinkan/ Dengan jari telunjuk kanan/ saya raba anu saya/ O, Allah Gusti nyumun ngapura/ Tidak salah lagi, jemblong/ anu saya sudah bolong/ Saya sudah merasa kosong
(Pengakuan Pariyem; 70)
Saya kenal betul sama hasyat lelaki/ yang timbul dari gerak- geriknya/ Pendeknya, dia kasmaran sama saya/ Selagi saya membersihkan kamarnya/ Tiba-tiba saya dirtenggut dari belakang/ O, Allah, saya kaget setengah mati, mas/ sekujur tubuh saya digerayakinya/ pipi, bibir, penthil saya dingok pula/ Paha saya diraba-raba/ diraba-raba paha saya/ Tapi saya pasrah saja, kok/ saya lega lila.



3. Imajis, Parable, Atavis(Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono)
Parabel ( cerita perumpamaan/ perumpamaan) yang menunjukkan gejala atavisme ( gejala penciptaan mitos baru berdasarkan mitos yang telah ada). Sapardi Djoko Damono menunjukkan parable dengan gejala atavisme yang didalam parabelnya dilahirkan suatu nilai baru yang relavan dengan jamanya.
Contoh: Kisah “Damar Wulan Minakjinggo” ditampilkan dalam suasana modern oleh Goenawna Muhamad dalam puisi “Asmarandana”, Sapardi Djoko Damono dengan “ Perahu Kertas” mengunggkapkan kisah “Nabi Nuh”.

4. Gaya Prosais (Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damon)
Adalah puisi yang menyampaikan dengan gaya biasa. Gaya prosaic mengalami kemajuan tahun 66-an dipelopori Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Puisi tersebut sukar dibedakan kecuali larik-lariknya setiap baris terjadi enyamemen tidak terdapat majas tidak terdapat ritma dan rima.
Contoh : “Tukang Rambutan Pada Istrinya”.

5. Kritik Sosial Terhadap Ketidak Adilan ( Rendra, Linus, Rahardi)
Kebanyakan kritik social yang dikemukakan pada puisi Indonesia mutakhir adalah masalah ketidak adilan. Istilahnya “ Ketidakadilan” itu berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan, social, ekonomi, politik dan sebagainya.
a. Pengakuan Pariyem. Di satu pihak puisi ini menampilkan sikap wanita Jaw yang pasrah, namun dilain pihak justru kepasrahannya itu merupakan kritik keras yang tersembunyi terhadap perlakuan yang tidak adil masyarakat Jawa terhadap seorang pembantu rumah tangga semacam Pariyem
Contoh : ( hal 225)
b. Soempah WTS dan Catatan Harian Sang Koruptor. Kritik-kritik social yang disampaikan Rendra, kritik social Rahardi ini jauh bersifat detail dan operasional. Karyanya bukan sekedar gambaran global tentang kepincangan social, namun detail peristiwa tentang terjadinya kepincangan itu.
Contoh : “ Tentang Rakyat”
Tuhan/ menciptakan aurat dan syahwat/ pabrik tekstil/ menciptakan/ kutang dan/ cawat.
Dan rakyat/ menciptakan kesemputan/ buat/ pejabat korup/ agar bebas/ melapas cawat/ dan mengumbar/ syawat.



6. Puisi Lugu ( Yudistira, Sides Sudyarto, dan Remy Silado)
Puisi Indonesia terdapat kecenderungan menciptakan puisi lugu, yakni puisi yang mengunakan teknik pengungkapan ide secara polos, dengan kata-kata serebral, dan kalimat-kalimat yang biasa atau polos, tidak dipakai tidak memakai majas
Contoh: “Karena Jajang” karya Arifin C. Noer
Tuhan/ saya tidak duit/ buat beli sugus/ karena jajang/ lagi doyang sugus.
( “Karena Jajang”)
Tuhan/ saya tidak percaya/ jajang ada di selayo/sebab saya pernah tahu/jajang ada di mana/buktinya di kamar ini saja/jajang selalu menyanyi/dan saya tidak selalu berhasil/menemuinya.
sok dia! tuhan.
(Sok Dia!)
Nampak bahwa sajak di atas tanpa perenungan untuk memahaminya.Majas, versifikasi, pemadatan bahasa tidak dipentingkan.











BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Langkah-langkah apresiasi puisi sebagaimana dipaparkan di atas, tentu saja hanya sekadar pegangan agar apresiasi puisi yang kita lakukan dapat dilakukan secara sistematis dan logis. Jika dalam pelaksanaannya terjadi perbedaan penafsiran dan pemaknaan, tentu saja hal itu sah-sah saja, sejauh alasan yang dikemukakannya logis. Jadi, perbedaan penaf-siran dalam apresiasi puisi, bukanlah hal yang tabu, bahkan justru sangat penting.
Perbedaan-perbedaan itulah yang mestinya dikembangkan dalam setiap kegiatan apresiasi, agar terbuka peluang kemungkinan pengungkapan makna karya. Dengan cara demikian, maka akan lahir berbagai penafsiran dengan argumentasi dan logikanya yang beraneka ragam. Oleh karena itu, pintu pertama dalam apresiasi tidak lain adalah pemba-caan teks karya itu sendiri untuk membuka jalan terjadinya komunikasi antara pembaca dan teks.
3.2 Saran

Sastra dapat dikatakan sebagai cermin masyarakat, atau diasumsikan sebagai salinan kehidupan, tidak berarti struktur masyarakat seluruhnya dapat tergambar dalam sastra, hanya gambaran masalah masyarakat secara umum yang ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas. Sosiologi sastra lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya sastra dengan permasalahan dengan masyarakat lebih mudah diperoleh.